1380176317la“Kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan. Ketika seorang pria telah melakukan apa yang dia anggap sebagai kewajiban kepada rakyat dan negerinya, ia bisa beristirahat dalam damai. Aku percaya aku telah berusaha untuk itu, dan karena itu aku akan tidur untuk keabadian”. [Mandela]

Rusdi Mathari
Nelson Mandela mengucapkan kata-kata itu hampir 20 tahun yang lalu dalam sebuah wawancara untuk pembuatan dokumentasi tentang dirinya, jauh sebelum kesehatannya seburuk dalam sebulan terakhir. Dia seolah sudah siap mati, beristirahat dalam damai itu; tapi orang banyak kini mendoakan Mandela agar segera pulih, terbebas dari infeksi paru-paru yang selama puluhan tahun merongrongnya.

Gadla Henry Mphakanyisw [ayah Mandela] meninggal karena penyakit paru-paru. Bakteri TBC mulai hinggap di paru-paru Mandela sewaktu dia diasingkan di penjara di Pulau Robben, Afrika Selatan di awal 1963. Sebagian orang menyebut, pelayanan pengobatan di penjara yang buruk menjadi penyebab TBC Mandela; sebagian yang lain menyatakan, siksaan yang diterima Mandela selama di penjara Robben termasuk ketika ditempatkan di sel yang pengap dan lembab, menjadi biang keladi TBC Mandela.

Dua-duanya punya alasan, tapi TBC faktanya lebih lama menggerogoti paru-paru Mandela ketimbang hukuman seumur hidup yang harus dijalaninya di penjara. Dia terlambat mendapat perawatan untuk tidak mengatakan sengaja tidak dirawat.

Perawatan yang memadai untuk TBC-nya baru serius dilakukan pemerintah Afrika Selatan, setelah Mandela ambruk tak berdaya dan rezim apartheid mendapat tekanan internasional pada 1988. Pada tahun itulah, para dokter di Rumah Sakit Stellenbosch mendiagnosis Mandela menderita TBC. Dua liter cairan dikeluarkan dari paru-parunya. Mandela dirawat selama enam pekan sebelum dipindahkan ke sebuah klinik swasta dekat penjara Cape Town.

Sejak pemerintahan rasialis di Afrika Selatan berubah sikap dan membebaskan Mandela awal 1990, bakteri TBC bergeming di ruang dada Mandela. Berkali-kali sejak itu bahkan ketika Mandela akhirnya terpilih menjadi presiden Afrika Selatan 1994, dia harus dirawat di rumah sakit termasuk sejak sebulan terakhir. Sosok Madiba [nama kecil Mandela] yang gagah dan pernah menjadi petinju, lalu terlihat rontok dan layu meskipun TBC dan infeksi paru-paru bukan satu-satunya penyakit yang menyerangnya.

George Bizos, pengacara HAM dan sahabat Mandela menjelaskan, Madiba juga mengidap penyimpangan memori [memory lapses]. Februari tahun lalu, sewaktu para dokter menyelidiki sakit perut yang terus-menerus, Mandela harus menjalani laparoskopi diagnostik atau operasi lubang kunci. Dokter membuat sayatan kecil di daerah perut lalu memasukkan kamera kecil untuk mengecek penyebab sakit perut itu.

Pada 2001, Mandela menjalani pengobatan radioterapi untuk kanker prostat. Dia lalu mengatakan kepada wartawan pada tahun berikutnya bahwa dirinya sudah sangat sehat dan terbebas dari penyakit. Mandela tentu hendak memberikan optimisme dengan pernyataannya, karena masalah di prostatnya sudah muncul sejak 1985. Tahun itu dia menjalani pembesaran kelenjar prostat untuk membuka sumbatan pada saluran kemihnya.

Kelenjar air mata Mandela juga sudah tidak sempurna atau bahkan rusak sama sekali. Ada alkalinitas yang disebabkan oleh batu kapur, dan hal itu tentu saja berhubungan dengan masa-masa buruk Mandela di Pulau Robben. Setiap hari selama 18 tahun di pulau itu, Mandela dan para tahanan lain dipaksa menghancurkan batu-batu kapur. Para dokter yang kemudian memeriksa kesehatan Mandela berkesimpulan, alkalinitas batu telah menyebabkan mata Mandela sangat kering dan rentan iritasi.

Dia menjalani operasi katarak untuk kali pertama, setelah usianya mencapai 75 tahun atau beberapa bulan setelah dia disumpah sebagai presiden Afrika Selatan. Sewaktu muncul di depan publik, para fotografer yang hendak memotret Mandela diminta untuk tidak menggunakan lampu kilat karena dikuatirkan mengganggu mata Mandela.

Teroris
Mandela lahir pada 18 Juli 1918 di Mveso, Transkei, Afrika Selatan. Nama lahirnya Rolihlahla Mandela. Dalam bahasa Xhosa, Rolihlahla artinya menarik cabang pohon, meskipun istilah itu kemudian sering diterjemahkan sebagai pengacau. Ayahnya seorang kepala suku yang gelarnya itu hilang setelah sang ayah bersengketa dengan hakim kolonial Inggris.

Di keluarganya, Mandela adalah orang pertama yang mengenyam pendidikan sekolah. Dan seperti kebiasaan pada waktu itu, mungkin pula karena bias sistem pendidikan Inggris di Afrika Selatan, seorang guru Mandela mengatakan kepadanya bahwa di sekolah itu, nama depannya adalah Nelson. Sejak itu Mandela dipanggil Nelson oleh gurunya meskipun teman-temannya tetap memanggilnya Madiba.

Ketika ayahnya meninggal karena penyakit paru-paru, usia Mandela baru 9 tahun. Hidupnya sejak itu berubah secara dramatis. Dia diadopsi oleh Jongintaba Dalindyebo, Bupati Thembu dan dimasukkan di kelas bahasa Inggris dan Xhosa meski minat Mandela yang terutama adalah sejarah dan geografi. Dia mulai banyak belajar bagaimana orang-orang Afrika telah hidup dalam damai hingga kedatangan orang kulit putih. Menurut para tetua, anak-anak Afrika Selatan telah hidup sebagai saudara, tapi orang kulit putih menghancurkan persekutuan mereka. Mereka mengambil semuanya: Tanah, udara, dan air di Afrika Selatan.

Cerita itu tak terlupakan oleh Mandela hingga di usia 16 tahun, muncul cerita lain yang membangkitkan semangatnya. Waktu itu dia mengambil bagian dalam upacara sunat tradisional Afrika sebagai tanda sudah akil baligh. Upacara sunat itu akan tetapi bukan hanya prosedur bedah, melainkan ritual yang rumit. Dalam tradisi Afrika, seorang pria yang tidak disunat tidak dapat mewarisi kekayaan ayahnya, menikah atau meresmikan ritual suku. Mandela berpartisipasi dalam upacara dengan 25 anak laki-laki lainnya.

Seorang kepala desa tampil sebagai pembicara utama di upacara itu tapi dia tidak berbicara seperti biasanya. Hari itu kepala desa menjelaskan bahwa mereka semua diperbudak di negara mereka sendiri. Tanah mereka dikendalikan oleh orang kulit putih. Mereka juga tidak memiliki kekuatan untuk memerintah diri mereka sendiri. Lalu para pemuda yang pada hari itu disunat pada akhirnya juga akan sia-sia karena hanya akan mencari nafkah dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan kulit putih. Mandela terkesiap.

Di universitas dia bergabung dengan gerakan anti-apartheid dan bergabung dengan Kongres Nasional Afrika [ANC]. Selama 20 tahun, dia lalu mengarahkan kampanye damai, pembangkangan non-kekerasan terhadap pemerintah Afrika Selatan dan kebijakan rasisnya. Tuntutannya antara lain, agar orang-orang kulit hitam mendapat pengakuan sebagai warga negara penuh, pembagian tanah, hak berkumpul dan pendidikan gratis di tanah mereka, Afrika Selatan.

Mandela yang semula berkomitmen berjuang tanpa kekerasan mulai percaya dengan perjuangan bersenjata ketika dia mendapati kenyataan, ANC mulai banyak ditinggalkan anak-anak muda. Mereka, generasi aktivis kulit hitam yang bergabung dalam Africanists percaya metode kampanye damai yang dilakukan Mandela tidak efektif. Africanists karena itu segera memisahkan diri untuk membentuk Kongres Pan-Africanists, dan itu berdampak negatif terhadap ANC terutama karena hilangnya dukungan militan anak-anak muda. Mandela menyadari hal itu dan sejak itu dia mendirikan Umkhonto we Sizwe, sayap bersenjata ANC. Fungsinya melakukan sabotase dan taktik perang gerilya untuk mengakhiri apartheid.

Setelah memimpin aksi-aksi pemogokan, pada 1963 Mandela dan pemimpin ANC lainnya dibawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup untuk pelanggaran politik, termasuk sabotase. Dia diasingkan ke Pulau Robben, tempat dia menyelesaikan gelar sarjana hukumnya lewat program korespondensi University of London, sekaligus tempat bakteri TBC bersarang di paru-parunya.

Dalam sebuah memoar yang dipublikasikan 1981, seorang eks agen intelijen Afrika Selatan mengungkapkan; pemerintah Afrika Selatan sebetulnya pernah merancang jebakan agar Mandela bisa melarikan diri dari penjara di Pulau Robben sehingga mereka punya alasan untuk menembaknya. Rencana itu gagal karena campur tangan intelijen Inggris dan nama Mandela terus menjadi simbol perlawanan kulit hitam.

Pada 1982, Mandela dan pemimpin ANC lainnya dipindahkan ke Penjara Pollsmoor, dan pemindahan ini diduga untuk memungkinkan pemerintah Afrika Selatan melakukan kontak dengan mereka. Tiga tahun berikutnya, Presiden Afrika Selatan, P.W. Botha menawarkan pembebasan kepada Mandela dan pemimpin ANC lainnya dengan syarat Mandela menyangkal telah melakukan perlawanan kepada pemerintah Afrika Selatan. Tawaran itu ditolak tapi tekanan lokal dan internasional untuk pembebasan Mandela sudah tak bisa dihentikan. Botha terserang stroke dan posisinya digantikan Frederik Willem de Klerk.

Nama terakhir itulah yang melepaskan Mandela pada 11 Februari 1990. De Klerk juga membatalkan pemblokiran ANC, menghapus pembatasan kelompok-kelompok politik dan menangguhkan semua eksekusi. Dua orang ini Mandela dan de Klerk, pada 1993 bersama-sama dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian atas upaya mereka untuk membongkar sistem apartheid negara. Setahun kemudian, Mandela terpilih sebagai presiden Afrika Selatan dan selama memimpin negara itu, dia antara lain membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang diketuai Uskup Agung Desmond Tutu

Lewat komisi itu, dia menyadari dan tampaknya berusaha mengelakkan pola balas dendam yang dilihatnya di sekian banyak negara, yang terjadi sewaktu ras atau suku yang semula tertindas mengambil alih pemerintahan. Lalu selama dua setengah tahun berikutnya, penduduk Afrika Selatan menyimak berbagai laporan kekejaman melalui pemeriksaan TRC.

Peraturannya sederhana: Bila seorang polisi atau perwira kulit putih secara sukarela menemui pendakwanya, mengakui kejahatannya, dan mengakui sepenuhnya kesalahannya, ia tidak akan diadili dan dihukum untuk kejahatan tersebut.

Kebijakan semacam itu tentu saja dikecam penganut garis keras. Mereka menganggapnya sebagai peraturan yang tidak adil karena melepaskan si penjahat begitu saja. Mandela akan tetapi bersikukuh bahwa negaranya jauh lebih memerlukan kesembuhan ketimbang keadilan; meskipun negara barat tetap menempatkannya sebagai orang yang berbahaya. Hingga tahun 2008, pemerintah Amerika Serikat misalnya masih memasukkan nama Mandela dalam daftar teroris dunia. Inggris yang menjajah dan mempraktekkan perbedaan ras dan kulit di Afrika Selatan, juga memasukkan ANC sebagai organisasi teroris.

Kini orang yang dicap sebagai teroris dan berusaha menyembuhkan negaranya dari luka-luka dendam dan kemarahan sejarah itu, tak berdaya diterkam bakteri TBC. Sudah lebih sebulan dia terbaring di rumah sakit di Pretoria dan ribuan orang mengirimkan doa untuk kesembuhannya; dan Mandela pantas mendapatkannya karena dia telah memberikan 67 tahun hidupnya untuk [hak-hak] kemanusiaan. Tak hanya di Afrika Selatan tapi di seluruh negara.

Artikel ini ditulis sewaktu Mandela menderita sakit, dan dimuat di majalah Voice+

Iklan