13890708821303839664Saya bercita-cita: kelak bila sudah tidak kere dan banyak konglomerat yang menitipkan uang mereka pada saya, saya akan membayar sejumlah penulis untuk menulis buku “33 Tokoh Wartawan Indonesia Paling Berpengaruh.” Salah satu tokohnya, tentu saja adalah saya.

oleh Rusdi Mathari
Membaca sepintas buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” saya jadi teringat mendiang Satyagraha Hurip. Orang-orang biasa memanggilnya Oyik dan saya ikut-ikutan memanggil dengan sebutan itu meski didahului kata “om.”

Om Oyik, saya mengenalnya di suatu siang di akhir 1990-an di Gedung Sinar Kasih [dulu penerbit koran Sinar Harapan] di Jalan Dewi Sartika 136 D, Cawang, Jakarta Timur. Kami bertemu di mulut loket kasir. Saya hendak mengambil honor. Dia juga.

Dari loket kasir, dia mengajak saya mengobrol di ruang perpustakaan di lantai 3, tempat tidak resmi saya bila mengetik artikel dengan mesin ketik milik Pak Zai, kepala perpustakaan Suara Pembaruan. Di sana sudah ada  tante Agnes Samsuri dan om Sumantri, dua redaktur yang sabar membimbing saya sebagai reporter freelance [yang belum setahun merambah Jakarta] untuk meliput museum-museum di Jakarta.

Disimak oleh tante Agnes dan om Sumantri, om Oyik mulai bertanya tentang asal-usul saya; dan seperti halnya dua redaktur itu, dia rupanya juga mengenal nama Bapak saya, sebagai sesama wartawan di Sinar Harapan sebelum dibreidel [1986]: Bapak koresponden di Situbondo, dan Om Oyik salah satu redakturnya di Jakarta.

Saya melongo mendengar ceritanya. Bukan karena cerita soal Bapak melainkan karena om Oyik berdialog dengan saya dalam Bahasa Madura, bahasa ibu saya. Lancar meski dia adalah orang Jawa tulen dan berkerabat dengan Bung Karno. Istrinya orang Manado, penganut Nasrani yang saleh.

Dari cerita om Oyik, saya tahu, dia pernah tinggal di Jember; kabupaten yang berjarak sekitar 60 kilometer ke arah selatan Situbondo. Pengalaman tinggal itulah, yang membuatnya bisa berbahasa Madura.

Menjelang sore, dari kantor di Cawang, om Oyik mengajak saya ke rumahnya di Kompleks PWI, Cipinang. Malamnya, dia meminta saya menginap setelah dari cerita saya dia tahu: di Jakarta saya menumpang tidur di beberapa tempat. Saya mengiyakan, dan saya kemudian tinggal di rumah sederhananya hingga beberapa hari. Mungkin tiga hari.

Selama itu, kami mengobrol banyak hal. Om Oyik terutama bercerita tentang pabrik-pabrik gula di Karesidenan Besuki. Pabrik-pabrik peninggalan Belanda yang tersebar di Bondowoso dan Situbondo. “Aku suka dengan PG Jatiroto di Lumajang,” katanya.

Sewaktu saya berpamitan, om Oyik memberi saya sangu beberapa keping uang. “Uangku hanya ini. Lumayan untuk beli kue dan es,” kata dia sembari meletakkan uang itu ke tangan saya.

Tangannya menggengam tangan saya. Saya menatap matanya. Dia memeluk saya. Di pekuburan Cina tak jauh dari kompleks rumahnya, saya membeli es cincau dengan uang pemberian om Oyik.

Saya tak berhubungan dengan om Oyik setelah itu, kecuali beberapa kali bertemu dengan Airlangga, anak bungsunya yang jago Taekwondo; dan menanyakan kabar tentang dia. Hingga suatu hari, saya mendengar kabar om Oyik meninggal dunia, 14 Oktober 1998. Saya untuk kali kedua pergi ke rumah di Kompleks PWI itu. Kali ini dengan rasa kehilangan dan sedih.

Di luar perkenalan pribadi, saya mengenal om Oyik sebagai wartawan dan penulis cerpen dan penulis skenario film. Dia pernah menjadi wartawan di beberapa media, dan banyak menulis cerpen tentang korupsi. Dia itulah menurut saya, penulis cerpen tentang korupsi satu-satunya di Indonesia. Meminjam istilah dari buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”; bagi saya, dia adalah penulis cerpen tentang korupsi paling berpengaruh di Indonesia dalam seabad terakhir.

Beberapa [kumpulan] cerpennya pernah mendapat penghargaan dari lembaga-lembaga yang cukup ternama di jagat sastra Tanah Air dan luar negeri, bahkan jauh sebelum saya lahir. Satu skenarionya diangkat ke layar lebar oleh oleh Asrul Sani, dan satunya lagi digarap oleh Teguh Karya. “Kamu jadi wartawan saja. Bakatmu di sana. Tak usah jadi sastrawan kayak aku. Kere,” begitulah salah satu pesan om Oyik yang saya ingat.

Saya tidak tahu, apakah om Oyik bercanda atau tidak. Saya juga tidak menanyakannya. Saya hanya tahu, sejak jadi wartawan, hidup saya sebetulnya cenderung kere kendati saya tetap bahagia [setidaknya saya berusaha untuk bahagia]. Mungkin mirip dengan nasib kebanyakan sastrawan seperti yang pernah dibilang om Oyik.

Membaca sepintas buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Berpengaruh” membuat saya  mengingat om Oyik. Saya bercita-cita:  kelak bila sudah tidak kere dan banyak konglomerat yang menitipkan uang mereka pada saya, saya akan membayar sejumlah penulis untuk menulis buku “33 Tokoh Wartawan Indonesia Paling Berpengaruh” sejak 1900. Selain om Oyik; tokoh yang harus ada di dalam buku itu tentu saja adalah saya. Di sampulnya, saya akan meminta ada tulisan “Dipersembahkan untuk Dewan Pers” seperti tulisan “Dipersembahkan untuk PSD HB Jasin” yang tertera di halaman awal buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”.

Tentu, setiap penulis di buku saya itu, akan saya bayar mahal. Kalau enggan, saya akan menawar lebih mahal lagi. Masih tak mau juga, saya akan bilang seperti yang ditulis oleh kawan saya Puthut Ea: taek.

Entah kapan. Om Oyik, juga sudah tak bisa saya tanya.

Iklan