POSTER-mother-language-day2009Andai masih hidup, Marie Smith Jones barangkali akan menjelaskan pentingnya mempertahankan bahasa ibu jika yang berkembang dan kemudian semakin banyak digunakan hanya satu bahasa yakni bahasa Inggris. Hari ini, 21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu, tapi ingatlah pidato Pak SBY: “…Inilah peluang emas atau golden opportunity…

oleh Rusdi Mathari
KETIKA meninggal enam tahun lalu, usia Jones mencapai 89 tahun. Dialah ketua kehormatan Eyak, suku yang tinggal di bagian selatan Alaska, Amerika Serikat. Tanah leluhur sukunya terletak di Teluk Alaska, terbentang sepanjang kurang-lebih 500 kilometer. Dari wilayah Prince William Sound hingga wilayah Yakutat.

Wajahnya khas Indian dan Jones, perempuan itu memang orang Indian yang sepanjang hidupnya telah menjaga jarak dengan orang-orang di lingkungannya yang berbahasa Inggris. Hingga kematiannya 21 Januari 2008, dia bertahan dan gigih menggunakan bahasa Eyak di tengah dominasi bahasa Inggris yang digunakan oleh hampir seluruh orang Amerika termasuk yang tinggal di Alaska. Orang-orang di Alaska menjulukinya sebagai “wanita yang menghadapi sikap bermusuhan luar biasa dan bisa mengatasinya” tapi Jones tak peduli.

Dia membantu Universitas Alaska menyusun kamus bahasa Eyak. Cita-citanya, punya catatan tentang bahasa Eyak yang bisa dibaca anak-anak suku Eyak kendati hal itu mungkin tak akan pernah terjadi. Menyusul kematiannya, bahasa Eyak  telah kehilangan penutur terakhir yang paling bersemangat di antara 50 orang suku Eyak yang masih tersisa. Dikutip Los Angeles Times,  Michael Krauss, profesor linguistik di Universitas Alaska menggambarkan kematian Jones sebagai berakhirnya riwayat bahasa Eyak, dan dia benar.

Jones, nama itu berbau Inggris, menikah dengan nelayan asal Oregon dan memiliki sembilan anak. Dua anaknya mati tapi tujuh anak yang masih hidup pun tak menguasai bahasa Eyak. Mereka tumbuh pada saat orang-orang di Alaska dianggap hanya harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dan di Alaska, tak hanya bahasa Eyak yang punah melainkan juga 20 bahasa asli dari suku-suku asli yang tinggal di sana. Mungkin menyedihkan, tapi itulah tragedi.

Unesco, lembaga PBB untuk pendidikan, sosial dan budaya mencatat; saat ini ada sekitar enam ribu bahasa di dunia. Dari jumlah itu, lebih dari 200 bahasa telah punah hanya dalam waktu satu abad, dan tiga ribu bahasa lainnya menunggu kepunahan. Sebuah bahasa disebut terancam punah apabila jumlah penuturnya kurang dari seribu orang. Begitulah pendapat Multamia R.M.T. Lauder, dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Dengan kriteria itu, ada sekitar 200 bahasa di dunia yang memiliki penutur kurang dari 10 orang dan 178 bahasa memiliki 10 hingga 50 penutur. Hingga tujuh tahun lalu, paling sedikit ada 20 bahasa dari sekitar 600-an bahasa di Indonesia yang terancam punah. Di Sumatera, ada bahasa Lom yang kini dituturkan oleh sekitar 50-an orang. Di Kalimantan, penutur bahasa Lengilu tinggal 10 orang. Hanya ada dua penutur bahasa Mapia dan satu penutur bahasa Bonerif di Papua. Penutur bahasa Hukumina di Maluku tinggal seorang, bahasa Kayeli tiga penutur, dan bahasa Nakaela lima penutur.

Ya inilah tragedi dan  eks presiden Prancis, Jacques Chirac menyebutnya sebagai musibah besar bagi kemanusiaan. Dunia tampaknya memang bergerak menuju “penyatuan satu bahasa” di tengah isu penghormatan terhadap hak asasi manusia dan pasar bebas, dan itulah yang dikuatirkan oleh Ranka Bjeljac-Babic. Di bawah judul “6.000 Languages: An Embattled Heritage”, dia antara lain menulis, arah menuju penyatuan bahasa sudah sudah semakin terasakan saat ini lewat penyebaran informasi secara elektronik dan sejumlah aspek globalisasi yang lain. Babic tak menyebut bahasa Inggris secara khusus, tapi bahasa itu memang telah menyerbu ke mana-mana di seluruh dunia termasuk menelan bahasa Manx  yang dituturkan penduduk Isle of Man, di Inggris Raya.

Di Indonesia, penggunaan bahasa Inggris semakin meluas terutama di kota-kota. Penyiar televisi dan radio mencampurnya dengan bahasa Indonesia yang buruk. Para orang tua lebih senang bila anak-anak mereka bersekolah yang bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris karena hal itu dianggap lebih bergengsi. Lebih moderen. Lihatlah iklan-iklan di media massa dan papan nama di kota-kota besar yang ditulis dengan setengah bahasa Inggris, setengah bahasa Indonesia: “The door underconstrucrions, silakan cari pintu lain,” “Konsep hunian kami adalah green garden,” “Ikuti lomba the run colour Jakarta” dan sebagainya.

Bahasa adalah cara pandang manusia atas dunia secara kolektif kultural. Ia merupakan fakta sosial yang mengatur dan mengendalikan perilaku masyarakat. Berbahasa tidak hanya perkara mengatakan kepada orang lain sesuatu hal dengan sebuah lambang verbal. Berbahasa adalah berpikir, bahasa adalah pikiran. Ia bukan  wujud otonom tapi mewakili pengalaman manusia atas dunia. Bahasa apa pun karena itu menyediakan perangkat berpikir yang khas. Dengan bahasanya, setiap masyarakat bahasa mengungkapkan cara berpikir yang unik, otentik, dan mungkin sangat renik.

Begitulah P Ari Subagyo, doktor bahasa di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dalam tulisannya “Melawan dominasi bahasa Inggris” di koran Kompas. Dominasi satu bahasa terutama bahasa Inggris dalam banyak aspek kehidupan penduduk dunia, menurutnya, layak dipahami sebagai penyeragaman cara berpikir dan cara memandang dunia. Bila dipandang bahwa tanda-tanda kebahasaan merupakan ranah perjuangan kepentingan, maka tidak terbantah bahwa bahasa Inggris merupakan perangkat ideologis  globalisasi.

Hari ini, 21 Februari adalah hari Bahasa Ibu Sedunia. Sembari mengenang Jones, penutur terakhir bahasa Eyak dan ribuan bahasa lain yang kini sekarat, kenangkanlah pula pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono: “… saya katakan minimizing the impact of the global economic crisis… Inilah peluang emas atau golden opportunity… What does Indonesia think?

Iklan