AAHInilah perkumpulan dari para pewaris perusahaan-perusahaan keluarga berumur lebih dari 200 tahun: Les Hénokiens. Acara tahunannya hanya bersenang-senang dan sesekali melakukan amal.

Rusdi Mathari
PULUHAN orang yang mengendalikan perusahaan-perusahaan paling tua di dunia berkumpul di Amboise, sebuah kota kecil di selatan Paris, Prancis; 17-20 Oktober lalu. Mereka memenuhi undangan dari Jean Roze dan The Château du Clos Lucé, yang mengelola museum pribadi Leonardo da Vinci Prize; untuk menghadiri pertemuan tahunan yang ke-26 dari Hénokiens. Nama yang disebut terakhir adalah sebuah wadah perkumpulan dari perusahaan-perusahaan keluarga yang telah beroperasi paling sedikit sejak 200 tahun yang lalu.

Tak ada agenda khusus dalam pertemuan itu, kecuali pemilihan ketua perkumpulan untuk masa dua tahun mendatang. Kali ini yang terpilih adalah Williem van Eeghen , pewaris Van Eeghen Group, perusahaan tua dari Belandayang bergerak di industri makanan. Dia menggantikan Christophe Viellard, pemilik Viellard Migeon & Cie perusahaan baja asal Prancis.

Acara lainnya adalah menyepakati menerima lima perusahaan tua sebagai anggota baru. Yaitu dua perusahaan dari Italia: pabrik Vitale Barberis Canonico [ berdiri sejak 1663] dan Guerrieri Rizzardi, perkebunan anggur yang berdiri sejak 1678]; Pollet, perusahaan penghasil produk-produk pembersih dari Belgia [berdiri sejak1788]; Les Fils Dreyfus & Cie, bank dari Swiss [berdiri sejak 1813]; dan A.E. Köchert, perusahaan permata dari Austria [berdiri sejak 1814].

Selebihnya, seperti acara-acara setiap tahunnya, hanyalah bersenang-senang dan berbagi pengalaman tentang perusahaan-perusahaan yang mereka urus sembari minum wine atau sake. Kali ini tentu lebih ramai karena kehadiran pimpinan perusahaan yang diterima sebagai anggota baru itu. Artinya anggota Hénokiens, kini berjumlah 44 perusahaan tua.

Hénokiens adalah perkumpulan perusahaan-perusahaan keluarga tertua di dunia. Namanya diambil dari nama Enoch atau Henok. Di Kitab Genesis, Henok disebut sebagai anak Kain, ayah dari Metusalah, yang mengembara di bumi selama 365 tahun lalu naik ke surga tanpa mengalami kematian. Gerard Glotin pemilik Marie Brizard dari Prancis, terinspirasi oleh kisah Henok itu.

Dia lantas melakukan penelitian dibantu oleh 164 organisasi kamar dagang dan 25 kedutaan besar. Awalnya, Glotin mengidentifikasi ada 74 perusahaan tertua di dunia. Tapi dia hanya memilih 30 perusahaan. Para keturunan pemilik 30 perusahaan itu lalu diundang ke Paris untuk meneken pendirian Les Henokiens pada 1981.

Sejak itu setiap menjelang musim dingin, para anggota perkumpulan rutin mengadakan pertemuan di kota-kota berbeda di berbagai negara. Di situs resminya, Hénokiens didirikan untuk bertukar pikiran, karena setiap perusahaan memiliki sejarah yang menarik dan karakter masing-masing, yang [siapa tahu] bisa dijadikan inspirasi untuk penulisan sastra, cerita di televisi atau film, dan sebagainya.

Di luar pertemuan rutin setiap tahun, perkumpulan ini kadang ikut dalam kegiatan sosial. Dua tahun lalu, mereka menyumbangkan dana € 26 ribu kepada Palang Merah Jepang untuk membantu korban gempa dan tsunami di Jepang. Tahun lalu mereka menyerahkan penghargaan Leonardo Committe Prize.

Hénokiens memang perkumpulan unik dan untuk menjadi anggota, syaratnya lumayan berat. Antara lain, perusahaan sudah berusia minimal 200 tahun, masih terus beroperasi dan dikelola oleh keluarga. Lalu sebanyak 50 persen dari kepemilikan modal perusahaan, juga diharuskan masih dikuasai oleh keluarga. Syarat lainnya, kinerja keuangan perusahaan harus sehat yang ditunjukkan dalam laporan keuangan tahunan, dan tetap berpengaruh pada pasar di negara masing-masing.

Mungkin karena syarat semacam itu, tidak banyak perusahaan keluarga yang kemudian tercatat sebagai anggota Hénokiens. Dari yang tidak banyak itu, sebagian besar anggota Hénokiens adalah perusahaan-perusahaan yang berasal dari Eropa; terutama dari Italia, Prancis, Jerman, Belanda, Belgia dan Swiss. Dari Asia, hanya tercatat dua perusahaan Jepang yang terdaftar sebagai anggota Henokiens.

Salah satunya adalah Hoshi, perusahaan yang didirikan Keluarga Hoshi di Komatsu. Perusahaan yang bergerak di jasa penginapan ini berdiri sejak 718 atau sudah berumur 1.293 tahun. Di daftar Hénokiens, Hoshi tercatat sebagai perusahaan keluarga tertua, dan sekarang dikelola oleh Zengoro Hoshi, generasi ke-46 dari Keluarga Hoshi.

Di Jepang, Hoshi sebetulnya bukan perusahaan keluarga yang paling tua. Di buku “Sukses Berabad-abad”, William O’Hara menulis Kongo Gumi yang berbisnis bangunan dan pondokan adalah perusahaan keluarga yang usianya jauh lebih tua dari Hoshi. Perusahaan yang didirikan oleh orang Korea itu berdiri sejak 578. Tapi Kongo Gumi tidak pernah mendaftar menjadi anggota Les Henokiens.

Tidak mudah mendapat jawaban mengapa perusahaan-perusahaan keluarga itu bisa berusia ratusan tahun dan sanggup bertahan hingga sekarang. Majalah the Economist pernah bertanya setengah mengejek: apakah perusahaan-perusahaanitu benar-benar berusia tua, sungguh-sungguh perusahaan keluarga atau hanya semacam asoasi perdagangan dari komunitas religius kala itu.

Sebagai contoh adalah Château de Goulaine. Perusahaan ini bergerak di bidang produkis minuman anggur, mempertontonkan kupu-kupu dan menggunakan benteng Château de Goulaine sebagai kantonya. Tapi apakah Château de Goulaine adalah benar-benar bisnis keluarga berusia seribu tahun atau hanya sekadar benteng tua yang bagus lalu dimanfaatkan baru-baru ini untuk menjual anggur dan mempertontonkan kupu-kupu?

Itu yang tak terjawab, tidak juga diterangkan di situs resmi Hénokiens. Di sana hanya tertulis keterangan: semua perusahaan tua itu bisa bertahan sampai sekarang disebabkan oleh tradisi kuat untuk menjaga kepercayaan, bangga dengan perusahaan, selain tentu saja karena berlimpah uang.

Iklan