Pasar tradisionalSaya selalu menyukai pasar tradisional. Sebuah tempat yang aromanya sangat khas:  bau bawang, lada, kol, cabe, amis ikan,  daging dan sebagainya; yang bercampur dengan aroma peluh manusia dan wangi buah. Tempat di mana pedagang dan pembeli masih bisa melakukan tawar-menawar. Berdialog dan bertatap muka secara jujur. Saya menyukai tempat dan suasana semacam itu. Sungguh-sungguh menikmatinya.  
oleh Rusdi Mathari
PAGI tadi, saya kembali menemani istri berbelanja ke pasar. Malam nanti, [rumah] kami menjadi tuan rumah arisan RT, dan istri merasa perlu pergi ke pasar untuk berbelanja pisang, singkong, kacang, dan lain-lain; juga beberapa barang. Kami bukan pergi ke pasar besar. Hanya pasar dekat rumah: Pasar Lenteng Agung. Itulah salah satu pasar tradisional di Jakarta, yang hampir setiap hari Sabtu atau Minggu, kami kunjungi dengan berboncengan sepeda motor.

Sudah tiga tahun terakhir, pasar itu berubah wujud. Selain gedungnya baru, pedagang-pedagang juga diatur lebih rapi meskipun kendaraan yang berlalu-lalang  di jalan di depan pasar tetap semrawut. Angkutan kota yang berhenti seenak selera sopirnya karena menunggu penumpang, dan tukang ojek yang parkir di bahu jalan bertemu dengan sejumlah pedagang yang tumpah di luar pasar. Jalanan seperti mampat.

Pagi tadi, saya sedikit susah payah mengendalikan sepeda motor melewati satu angkutan kota yang berhenti tepat di depan gerbang pasar. Bunyi klakson tak manjur untuk membuat angkutan umum itu bergerak. Saya terpaksa memotong jalannya, lalu berbelok masuk ke areal pasar yang juga sesak dengan sepeda motor dan beberapa kendaraan roda empat termasuk truk. Saya merasa beruntung, jika kemudian bisa mencapai tempat parkir yang terletak di belakang pasar, di samping bak sampah yang meruapkan bau khas.

Di sana sudah ada puluhan atau mungkin seratus lebih sepeda motor yang berjajar tak keruan. Tak ada yang mengatur karena tukang parkir hanya berjaga di pintu masuk yang terletak di sisi kanan gedung pasar, di bagian depan yang berjarak sekitar enam meter dari gerbang pasar sebelah kanan, yang terhalang oleh angkutan umum yang tak mempan diklakson itu. Sepeda motor yang masuk ke areal parkir juga tak dicatat pelat nomornya. Petugas parkir hanya membagikan karcis dan memungut uang parkir seharga Rp 2 ribu. Hanya seperti itu pekerjaannya. Dia bisa jadi juga tak peduli apakah sepeda motor yang keluar dari tempat parkir, benar dibawa oleh orang yang sama ketika masuk, atau tidak.

Saya memarkir sepeda motor paling di pinggir. Hanya berjarak sekitar tiga meter di sebelah bak sampah yang penuh lalat dan didaki oleh beberapa kucing. Beberapa pria terlihat duduk-duduk di sepeda motor yang diparkir. Mereka mungkin adalah tukang ojek yang menunggu langganannya, atau para suami yang menunggu istri mereka berbelanja. Ada yang sibuk memencet-mencet HP, ada yang merokok, ada yang melamun. Sungguh malang para pria itu dan saya tentu saja tidak seperti mereka. Saya memilih menemani istri masuk ke pasar, dan itulah yang selalu saya lakukan setiap kali menemani istri ke pasar.

Saya memang menyukai pasar tradisional dan aromanya yang khas. Sungguh-sungguh menikmatinya. Melihat manusia melakukan tawar-menawar harga, biarpun hanya untuk selisih harga lima ratus atau seribu rupiah.

Di Situbondo, nenek dan bude saya adalah pedagang di pasar. Sewaktu SD, setiap kali hari libur, saya hampir selalu menemani mereka berjualan. Mendengarkan dialog antara bude dan pembeli, menyimak nenek memberi potongan harga kepada pelanggannya. Mereka menjual ikan.

Selain bandeng dan udang dari tambak milik kakek, mereka juga menjual ikan-ikan laut yang dikirim oleh para nelayan yang tinggal di sekitar tambak kami di pinggir pantai yang berjarak sekitar 12 kilometer ke arah utara dari rumah kami di kota. Para nelayan itu biasanya datang dan membawa ikan ke rumah kami selepas ashar atau menjelang senja. Mereka datang bersepeda. Kadang hanya seorang, kadang berdua atau bertiga.

Di bagian belakang sepeda mereka, selalu ada dua keranjang anyaman bambu berukuran besar, tempat mereka meletakkan ikan. Tengiri, tuna, kakap, tongkol dan mujair adalah beberapa jenis ikan yang saya ingat, yang biasa dibawa oleh  mereka ke rumah kami. Kadang mereka membawa kepiting dan udang berukuran besar.

Saya juga pernah melihat ikan kerapu seukuran anak TK. Lidah ikan itu menggelembung keluar seperti balon. Warnanya merah. Ketika digantung di timbangan kuningan yang diikatkan ke cabang pohon jambu di depan rumah nenek, saya dan adik sering menusuk-nusuk lidah ikan kerapu itu. Kata nenek, kerapu adalah ikan kesukaan Tuan Cung, pemilik Toko 29 di Situbondo.

Pelanggan nenek dan bude kebanyakan memang orang Cina. Sebagian besar tinggal di Situbondo tapi ada satu-dua yang berasal dari Bondowoso dan Jember. Saya tak tahu mengapa orang-orang Cina itu menyukai nenek dan bude. Mungkin karena mereka tahu, nenek saya yang berasal dari Pulau Kangean, juga masih berdarah Cina.

Kios pertama yang dituju istri saya adalah kios penjual pisang. Kios itu tak jauh dari pintu masuk di bagian belakang pasar. Untuk mencapainya, kami melewati lorong sempit yang di sisi kiri dan kanannya dipenuhi pedagang ikan segar. Lantai tentu saja becek, dan di atas lantai keramik putih yang becek itu berjajar beberapa perempuan, antre menawar atau membeli ikan. Kami melalui lorong itu dengan harus bersenggolan pantat atau pinggul. “Permisi bu. Permisi, mau lewat…”

Di kios pisang, istri saya menawar pisang raja. Harganya Rp 25 ribu satu sisir. Istri saya menawar Rp 15 ribu, begitu juga dengan seorang ibu yang berdiri di sebelah istri saya; tapi si penjual bergeming. Dia tak mau menurunkan harga.

Istri saya lalu bertanya tentang pisang yang enak bila direbus. Si penjual menyebut pisang uli. Kata dia,  pisang uli terasa legit bila direbus seperti rasa uli, dan sebab itu disebut pisang uli. Harganya Rp 8 ribu satu sisir. Istri saya meminta untuk diikatkan dua sisir. Kali ini tanpa menawar.

“Pisang rajanya Rp 15 ribu dong,” kata istri saya.
Si penjual menggeleng. Saya menceletuk, “Kalau Rp 20 ribu?”

Rupanya si penjual sepakat dengan harga yang saya sebut. Dia menurunkan empat sisir dari pipa besi tempat pisang-pisang diikat bergelantungan. Istri saya memilih dua sisir dan ibu yang berdiri di samping istri saya dan ikut menawar pisang raja, turut mengambil satu sisir. “Bapaknya malah pintar menawar,” kata si ibu.

Istri saya mengulurkan uang pecahan seratus ribu kepada penjual pisang, dan si penjual pisang mengembalikan Rp 45 ribu. “Pisang ulinya cukup Rp 15 ribu saja,” katanya.

Dari gaya bicaranya, saya menduga dia orang Betawi. Wajahnya terlihat masih remaja.

Dia menyerahkan empat ikat sisir pisang kepada saya, lalu saya dan istri berlalu dari kiosnya.

Tujuan kami berikutnya: kios penjual ayam potong, langganan kami. Kata istri saya, Voja anak kami memesan untuk dibelikan ayam. Ada dua jenis ayam potong yang dijual di sana: ayam negeri [broiler] dan ayam kampung. Istri saya memilih ayam kampung.

“Ini berapa?” kata istri saya menunjuk seekor ayam berukuran sedang.
“Tujuh puluh ribu,” kata si penjual.
“Tak bisa kurang?” jawab istri saya.
“Sudah murah Neng.”
“Kalau yang itu?” istri saya menunjuk ayam yang lain.
“Itu Rp 45 ribu, di sebelahnya Rp 60 ribu Neng.”
“Kurang dikit dong.”
“Gak bisa Neng.”

Harga ayam potong memang selalu naik. Apalagi ayam kampung. Tak ada kompromi. Tak bisa ditawar karena si penjual juga mendapatkannya dari pemasok dengan harga yang sudah dipatok.  Bila dia menurunkan harga, penjual ayam potong di sebelahnya bisa protes; tapi sebentar, dia berulang kali memanggil istri saya “Neng”.

Sekarang, saya baru ingat, dia memang selalu memanggil istri saya “Neng” setiap kali kami datang ke kiosnya. Dia orang Sunda. Kebiasaan orang Sunda memanggil perempuan yang lebih muda dengan sebutan Neng, dan memanggil perempuan yang lebih tua Teteh. Saya tersenyum sembari memperhatikan wajahnya.

Kulitnya langsat cenderung terang. Di bawah hidungnya ada kumis tipis. Rambutnya lurus. Celemek atau apron yang dikenakannya, penuh darah ayam. Saya taksir usianya sekitar 35-an tahun, dan kalau taksiran saya benar, usianya itu jelas jauh lebih muda dari usia istri saya.

Lalu kenapa dia memanggil istri saya “Neng”? Apakah dia menganggap istri saya berusia lebih muda, atau dia sebetulnya memang sudah tua tapi terlihat awet muda, atau jangan-jangan dia naksir istri saya?

“Saya beli yang Rp 70 ribu,” kata istri saya kepada penjual ayam potong itu.
“Mau dipotong berapa?”
“Potong 12,” jawab istri saya.

Dari kios ayam potong, kami beranjak ke kios sayuran. Setelah kembali bersengggolan dengan beberapa perempuan dan anak-anak di lorong yang berbelok-belok, kami sampai di kios penjual sayur langganan kami. Penjualnya suami-istri. Pasangan muda. Orang Jawa. Orang Wonogiri.

Si suami mengenakan kaus tanpa lengan dan si istri mengenakan kaus model you can see. Warna kaus mereka seragam: hitam. Peluh menghiasi wajah dan lengan mereka yang terbuka. “Eh Bapak kelihatan lagi,” si istri menyapa saya.

Saya tersenyum. Seingat saya, hanya sekali saya tak menemani istri berbelanja ke pasar dan mengunjungi kios penjual sayur itu, tapi rupanya si mbak penjual memperhatikan betul kehadiran dan ketidakhadiran saya.

Tiba-tiba, bruk. Di lorong selebar 50 cm, badan saya ditabrak seorang ibu gendut. Dua tangannya menenteng beberapa kantong belanjaan. Saya hampir jatuh. Istri saya masih sibuk memilih paprika hijau, buncis, terong, jeruk limau, tempe, cabe merah, brokoli dan bawang bombai.

“Maaf Pak. Maaf,” katanya.
“Ibu mencari apa?” tanya saya.
“Kembang tahu Pak,” katanya.
“Di pojok sana Bu,” mbak penjual sayur ikut menyahut, setengah berteriak.

Ibu gendut itu berlalu, memandangi saya sembari nyengir. “Berapa semua?” tanya istri saya.

Si mbak penjual dengan cepat menghitung. Tanpa kalkulator. Hanya dengan menunjuk bungkusan-bungkusan palawija dan sayur yang dibeli istri saya, dia dengan jitu menyebut harga.  “Empat puluh empat ribu,” jawabnya.

Istri saya membayar dengan uang Rp 100 ribu. Si mbak mengembalikan Rp 60 ribu. Istri saya melihat uang kembalian itu, lalu memandang ke si penjual sayur. Dia tersenyum sambil menggerakkan dagunya ke atas. Seolah kode untuk mengatakan pada istri saya, “Gak apa-apa, harganya saya diskon empat ribu.” Butiran keringat menempel di ujung hidungnya yang kecil.

“Terima kasih ya. Kalau beli bumbu ayam ungkep di mana ya?” tanya istri saya.
“Itu mbak, di sebelah kiri,” kata si mbak penjual sayur.

Kami menengok ke belakang. Berjarak dua kios ke sebelah kiri kios penjual sayur, terlihat kios bumbu yang dimaksud. Itulah kios bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan. Kami ke sana. Di lapak kios terlihat berjajar enam toples plastik berisi bumbu. Ada yang berwarna kuning kemerahan, itulah kunyit. Ada yang berwarna coklat pucat, itulah lengkuas. Saya tidak hapal semuanya. Kalau pembeli mau, bisa juga dipesan cabe merah untuk dihaluskan.

Penjualnya laki-laki muda. Dia juga mengenakan singlet. Warnanya merah. Tubuhnya kekar dan ada jambang di pelipisnya. Dari balik singletnya, menyembul bulu-bulu. “Beli bumbu apa mbak?” katanya menyambut kami.

Istri saya menoleh ke saya. Saya menoleh ke istri saya. Suara si mas penjual bumbu yang terdengar gemulai, telah menarik perhatian kami.

“Bumbu ayam ungkep. Seribu ya?” jawab istri saya.
“Jangan Bu. Dua ribu ya?” kata si penjual.

Pria itu mengambil kantong plastik kecil yang sering digunakan untuk membungkus es lilin, lalu mengisinya dengan bumbu-bumbu. Dia menyendok bumbu dari empat toples. Saya hanya tahu yang berisi kunyit.

“Bumbu ungkep kok banyak sekali mas?” tanya saya.
“Biar rasanya enak Pak. Kan aneka bumbu…” jawab dia. Lagi-lagi dengan suara yang gemulai. Dimirip-miripkan suara perempuan.

Matanya mengerling. Saya nyengir dan balas mengerling. Lalu saya melihat, bumbu ungkep ayam yang dipesan istri, dia tambahi satu sendok.

Ketika kami sudah beberapa langkah meninggalkan kios itu, saya mencoba menoleh ke belakang. Si penjual bumbu rupanya masih memperhatikan kami [atau mungkin saya]. Dia tersenyum. Saya mesem tapi langsung menggandeng tangan istri dan segera berbelok ke lorong lain. Lorongnya masih sama, berukuran setengah meter dan kami mulai agak kesulitan berjalan menghindari bersenggolan pantat atau pinggul dengan banyak perempuan; sembari menenteng beberapa kantong plastik berisi sayur, pisang dan ayam.

Tiba di bagian tengah pasar, kami mendatangi kios pedagang telur. Saya, istri, dan anak saya penyuka telur asin, dan di kios telur satu-satunya di Pasar Lenteng Agung itulah, kami biasanya membeli dan mendapatkan telur asin yang cukup baik. Telur asin masir.

Ada dua orang di dalam kios itu. Seorang anak muda, dan laki-laki setengah baya yang dari bahasa tubuhnya, terlihat seperti bos di kios itu. Perutnya buncit. Arloji di pergelangan tangannya terlihat kecil dibanding lengannya yang bulat besar. Sebatang rokok yang baranya sudah mati, terselip di bibirnya. Raut mukanya terlihat tenang dan dia tak sekalipun melihat pada kami, para pembelinya. Seolah tidak acuh. Lampu di kiosnya bercahaya terang. Mungkin paling terang di antara kios-kios yang ada di lantai satu.

Ketika kami datang, dia sibuk memindahkan telur bebek dari kotak kayu ke rak telur yang terbuat dari kardus tebal. Sekali ambil, tiga telur direngkuhnya. Telur-telur itu lalu dia tempelkan ke atas kubus kayu yang berlubang dan dilapisi kertas minyak warna putih. Di dalam kubus ada lampu yang menyala. Itulah alat periksa telur sederhana, dan si penjual telur sedang memeriksa, apakah telur-telur yang dia pindahkan ke rak kardus masih baik atau sudah busuk.

“Telur ayam sekilo berapa Pak,” seorang ibu yang berdiri di sebelah saya bertanya.
“Enam belas ribu,” jawab si bapak.
“Bukan Rp 15 ribu?” balas si ibu.
“Kalau beli kemarin harganya malah Rp 14 ribu,” kata si penjual.

Saya tersenyum mendengar dialog itu. Istri saya menyorongkan empat telur asin. Si penjual meminta istri saya menambah sebutir telur lagi. “Biar pas Rp 13 ribu,” kata dia.

Dari logatnya, saya menduga dia berasal dari pesisir utara Jawa. Mungkin orang Tegal. Mungkin orang Brebes.

Telur asin sudah didapat, dan kami lalu naik ke lantai dua; tempat berjualan para pedagang aneka plastik, pecah belah dan sebagainya. Kami butuh membeli gelas karena peserta arisan RT lebih 40 orang, dan gelas di rumah kami tak sebanyak itu. Istri saya masuk ke kios di sebelah ujung tangga. Dia menawar gelas bening. Gelas murah. Selusin Rp 15 ribu. Saya menawar nampan plastik kecil yang dibandrol Rp 10 ribu, dan baki berukuran sedang yang dipatok Rp 12 ribu.

Si penjual akan tetapi tak mau menurunkan harga. Kami tak punya pilihan.

Istri saya membeli tiga lusin gelas, tiga nampan kecil berwarna putih dan satu baki warna kuning. Total harganya Rp 92 ribu, tapi saat istri saya hendak membayar, si penjual malah menurunkan harga. Nampan kecil, dia lepas seharga Rp 7 ribu dan baki Rp 10 ribu.

Dari lantai dua, menuruni tangga ke lantai satu, kantong plastik yang kami tenteng semakin banyak. Tangan kanan saya mengangkat kantong berwarna merah berisi enam kardus yang di dalamnya berisi masing-masing enam gelas dan tiga nampan dan satu baki. Tangan kiri menjinjing kantong warna hitam berisi pisang, sayuran, ayam, dan bumbu ungkep ayam. Istri saya menenteng satu kantong plastik berukuran kecil berisi telur asin.

Di lantai satu, kami sekali lagi melewati lorong-lorong kios selebar kurang-lebih 50 cm. Kembali bersenggolan dengan pantat banyak orang. Berbelok ke kiri, berbelok kanan; hingga akhirnya sampai di pintu keluar yang juga pintu masuk, di belakang pasar. Saya menghirup udara agak segar, meski aromanya tetap khas. Aroma pasar.

Kami berjalan menuju ke sepeda motor yang diparkir di dekat bak sampah besar. Di antara sepeda motor kami dan bak sampah itu, yang sebelumnya kosong, terlihat sudah terparkir sepeda motor lain. Sepeda motor saya terjepit. Saya meletakkan semua kantong di lantai aspal, tak jauh dari sepeda motor yang diparkir. Istri saya menungguinya.

Saya mulai mengangkat kaki kanan perlahan dan menaiki jok sepeda motor juga dengan perlahan. Kunci setir saya buka, dan saya mulai memundurkan sepeda motor sembari menggoyang setirnya ke kiri dan ke kanan, agar kaca spion tidak mengenai kaca spion sepeda motor di kiri dan kanan. Tidak terlalu sulit. Kini, saya hanya perlu menyerongkan sepeda motor ke arah kiri agar bisa keluar dari jepitan dua sepeda motor.

Ketika arah sepeda motor sudah lurus searah jalan keluar, istri saya menyodorkan kantong plastik berisi gelas, nampan dan baki. Saya mengambilnya dan meletakkan di bagian tengah sepeda motor. Kantong-kantong plastik yang lain diletakkan di atas jok, dijepit di antara saya dan istri saya. Sepeda motor sudah menyala tapi belum bisa jalan. Di depan kami, seorang ibu dengan santai memarkir sepeda motor sembari menelepon. Saya klakson. Dia menoleh. Wajahnya terlihat sewot tapi dia segera meminggirkan sepeda motornya.

Kami keluar di pintu yang sama dengan pintu kami masuk, tempat tukang parkir hanya duduk-duduk dan membagikan karcis. Melihat sepeda motor kami, dia langsung berdiri. Istri saya menjulurkan uang pecahan dua ribu. “Ya terus jalan,” hanya itu yang diucapkan si tukang parkir setelah memungut uang dari tangan istri saya.

Berbelok ke kiri melintasi halaman depan pasar, lalu berbelok kanan ke gerbang pasar di sisi kiri; saya tak langsung memacu sepeda motor ke jalan dua arah di depan pasar. Masih ada kacang dan singkong yang belum kami beli, dan kios penjual kacang dan singkong ada di seberang jalan. Dari pintu gerbang, kami harus menyeberang, dan benar kami menyeberang. Memotong jalan yang ruwet dengan aneka kendaraan. Saya mengerti, tindakan saya keliru tapi saya tidak punya pilihan yang lebih baik.

Tiba di seberang jalan itu, saya memarkir sepeda motor di depan kios beras, yang bersebelahan dengan kios singkong dan kacang. Letak kios beras itu agak menjorok dari garis sempadan jalan dan memiliki ruang kosong sekitar 1 meter, yang cukup untuk tempat parkir sepeda motor. Di bawah papan kayu tempat beras-beras ditumpuk, ada kardus bertuliskan: “Dilarang Parkir Kecuali Pelanggan.”

Saya membaca tulisan itu, dan si penjual beras sempat sebentar memandang saya yang keheranan. Dia mungkin mengira saya akan ke kiosnya untuk membeli beras. Saya pura-pura tak acuh. Istri saya turun dari sepeda motor, berjalan ke kios kacang dan singkong yang bangunannya benar-benar mepet dengan tepi jalan.

Ada seorang lelaki tua di kios itu. Dialah penjual kacang tanah dan singkong itu.  Dia mengenakan kopiah dan berbaju batik lengan panjang bercorak hitam dan kuning emas. Tiga kancing di bagian atas bajunya dibiarkan terbuka, memperlihatkan bagian dadanya yang mulai keriput. Mungkin karena dia kepanasan. Celananya hitam. Sepatu berbahan karet yang juga berwarna hitam, terpasang di kakinya.

Sewaktu istri saya masuk ke kios, si kakek tak bereaksi. Dia duduk di bangku panjang. Kaki kirinya naik ke bangku. Dari mulutnya mengepul asap rokok. Kopiahnya terlihat miring.

Di kios itu, ada beberapa karung kacang tanah dan singkong yang belum dikeluarkan. Ditumpuk begitu saja di depan meja kecil yang terbuat dari kayu, di sebelah bangku panjang. Kacang tanah yang sudah dikeluarkan dari karung, menggunung di tiga kotak kayu yang diletakkan di lantai kios. Dua kotak berisi kacang tanah, satu kotak berisi kacang tanah bulat. Di sebelahnya ada dua kotak berisi tumpukan singkong.

“Singkong sekilo, berapa Pak?” tanya istri saya.
“Tiga ribu,” kata si kakek.

“Mahal amat.”
“Kalau mahal gak usah dibeli.”

Nada suaranya datar. Tidak ketus.

Mendengar jawaban itu, istri saya memandang ke saya. Tawa kami pecah. Saya yakin kakek itu orang Betawi. Pria Betawi yang lucu tapi tidak ringkih. Saya jadi teringat pada ibu penjual gorengan di Kampus Universitas Pancasila yang juga orang Betawi.

Suatu siang, sewaktu selesai memakan dua tempe goreng, saya bermaksud membeli sebotol teh dingin yang ada di depan dagangannya.

“Itu penjualnya Pak,” kata dia menunjuk seorang laki-laki yang berdiri agak jauh.
“Bukan dagangan Ibu?” tanya saya.
“Bukan Pak… ‘Bang, bang, ada yang mau beli nih. Bengong aja lu, kayak kebo bunting’,” si ibu meneriaki laki-laki itu.

Saya terbahak. Beberapa mahasiswa yang juga sedang makan gorengan, ikut ngakak. Laki-laki yang diteriaki oleh ibu tadi berlari menghampiri kami, mengambil sebotol teh dingin lalu menyerahkannya pada saya.

Di rumah saya menceritakan kisah si ibu penjual gorengan kepada istri dan anak saya. Mereka juga ngakak. Anak saya bertanya, “Kok ibu itu tahu ya, kalau kerbau bunting pasti bengong?”

Di kios singkong dan kacang tanah,  saya dan istri masih tertawa tapi si kakek tetap duduk di bangku panjang. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.  Dia bahkan tak peduli dengan kami yang tertawa. Menertawakan dia, tepatnya.

“Kalau singkong yang bagus yang mana Pak?”
“Mana saya tahu. Pilih aja sendiri.”
“Begitu amat sih jawabannya,” kata istri saya sambil tetap tertawa.

Apa boleh buat, istri saya harus mencari dan memilih sendiri singkong yang dikehendaki: singkong yang pulen bila selesai direbus. Dia harus berjongkok untuk bisa memilih singkong yang ditumpuk di kotak kayu yang digelar di lantai. Beberapa singkong terpilih dimasukkan ke kantong plastik.

Sekarang, si kakek mulai beringsut dari bangku panjang. Dia mendekati istri saya dan bertanya jumlah singkong yang hendak dibeli. Istri saya menjawab lima kilo.

“Kalau kacang tanah sekilo berapa?” tanya istri saya.
“Sepuluh ribu,” jawab si kakek.

Istri saya tak berani lagi menawar, kecuali  segera memasukkan beberapa genggam kacang ke kantong plastik. Si kakek mengambil kantong plastik berisi singkong dari tangan istri saya. Mengangkatnya lalu mengaitkan ke timbangan yang terbuat dari kuningan. Melihat timbangan itu, saya teringat pada timbangan yang sama milik nenek, ketika dia masih berdagang ikan di pasar Situbondo. Dulu, saya dan adik saya sering bergelayutan di kail timbangan yang di bawahnya diikatkan seutas tambang.

Si kakek mulai menggeser bandul timbangan ke angka 5. Masih belum seimbang. Dia merengkuh dua singkong dari kotak kayu dan menambahkannya ke kantong. Posisinya sekarang malah jomplang. Singkong di kantong plastik sudah melebihi angka 5 kilo, tapi dia tidak mengurangi jumlah singkong dari dalam kantong. Sebaliknya dia malah mengambil lagi dua singkong dan kembali memasukkannya ke kantong.

Keheranan saya melihat tingkah si kakek menimbang singkong, berlanjut sewaktu melihatnya kembali menimbang sekantong kacang tanah yang diserahkan oleh istri saya. Istri saya hendak membeli lima kilo kacang tanah, tapi si kakek terus menambahkan beberapa genggaman kacang tanah ke kantong hingga posisi kantong lebih rendah lagi, menjungkirkan ke atas bandul kuningan di sisi sebelahnya. Selesai menimbang, dia masih memasukkan lagi kacang tanah beberapa genggam.

“Usianya berapa Pak?” tanya saya.
Kagak tahu. Yang Atas yang ngitung,” jawab si kakek.

Istri saya tersenyum sembari menyerahkan uang untuk membayar singkong dan kacanag tanah yang dibeli. Si kakek membuka laci meja kayu. Dia bermaksud mengambil uang dari sana untuk uang kembalian. Di laci itu terlihat segepok uang pecahan lima puluh ribu dan seratus ribu diikat karet gelang. Tebal dan dibiarkan teronggok.

Si kakek tak menjumpai uang pecahan kecil di laci itu. Dia keluar dari kiosnya, berjalan mendatangi kios beras di sebelahnya, untuk menukar uang seratus ribu dengan puluhan ribu. Beberapa lembar uang puluhan ribu itu lalu diserahkan ke istri saya.

“Diding nama saya,” kata dia, menjawab pertanyaan saya.
“Ya terima kasih Kong,” jawab saya.

Kini belanjaan kami bertambah lagi. Dari sepeda motor, saya menurunkan kantong plastik yang di dalamnya ada enam kardus berisi tiga lusin gelas. Sebagai gantinya, saya meletakkan kantong berisi singkong dan kacang tanah yang baru dibeli dari si kakek. Kantong berisi tiga lusin gelas itu, lalu saya tumpuk di di atasnya. Di bagian belakang, istri saya duduk memegangi kantong-kantong yang lain. Sekarang saya mirip seperti tukang ojek, tapi persoalannya, sepeda motor kami tak bisa langsung menyeberang.

Semakin siang, jalan dua arah di depan pasar semakin macet. Dari arah barat, sebuah sedan berjalan perlahan. Sangat perlahan, seperti menunggu sesuatu. Di belakangnya, berbaris belasan sepeda motor dan beberapa mobil yang tertahan tak bisa mendahului karena dari arah berlawanan, arus kendaraan juga padat.

Sedan itu, pengemudinya laki-laki. Memakai kacamata hitam. Dia beberapa kali membunyikan klakson. Kaca jendelanya diturunkan dan tangan kanannya dikeluarkan seperti mengisyaratkan sesuatu kepada seseorang di seberang jalan. Ramai orang memperhatikan sedan dan pengemudinya. Seorang anak muda berambut sebahu menyeberang jalan, mendekati si pengemudi. Dia menyerahkan bungkusan plastik ke pengemudi sedan.

Melihat adegan itu, dua anak muda yang berboncengan sepeda motor yang datang dari arah berlawanan dan persis berada di sisi sedan berteriak, “Beli kue pukis saja sombong. Bikin macet saja.”

Saya dan istri tertawa. Pengemudi sedan melaju. Arus kendaraan kembali bergerak. Saya mendapat celah menyeberang, dan segera memacu sepeda motor. Pulang ke rumah. Malam nanti, istri saya akan menyuguhkan pisang, kacang dan singkong rebus untuk bapak-bapak peserta arisan RT, berikut kopi dan teh yang akan dituang ke gelas-gelas yang baru kami beli dari pasar pagi tadi.

Saya selalu menyukai pasar tradisional. Sebuah tempat yang aromanya sangat khas: bau bawang, lada, kol, cabe, amis ikan, daging dan sebagainya; yang bercampur dengan aroma peluh manusia dan wangi buah. Tempat di mana pedagang dan pembeli masih bisa melakukan tawar-menawar. Berdialog dan bertatap muka secara jujur. Saya menyukai tempat dan suasana semacam itu. Sungguh-sungguh menikmatinya.

Iklan