Stop-RasismeIni musim pemilu, bukan musim untuk menyebarkan dendam dan kebencian.

Rusdi Mathari
HILLARY Rodham Clinton berang. Menjawab pertanyaan wartawan dari kantor berita ABC News, dia menyangkal  tim suksesnya berada di belakang pemuatan foto Barack Obama yang diunggah oleh drudgereport.com. “Saya tidak tahu apa pun tentang [foto] itu” kata Nyonya Clinton kepada Teddy Davis dan Jacqueline Klingebiel, wartawan ABC News yang mewawancainya, 25 Februari 2008.

Foto yang ditanyakan oleh dua wartawan itu adalah foto Obama mengenakan baju tradisional Somalia lengkap dengan serbannya. Sebetulnya itu adalah foto yang biasa saja, tapi saat itu adalah musim kampanye calon presiden dari Partai Demokrat, dan Obama juga Hillary bersaing sengit mendapatkan tiket sebagai kandidat presiden dari partainya. Lewat foto itu, Obama seolah hendak digambarkan sebagai pemeluk Islam, agama yang sukses dikampanyekan oleh George W Bush sebagai agamanya para teroris, dan karena itu Obama harus ditolak sebagai calon presiden.

Dan ini yang menjadi biang persoalan: redaksi drudgereport mendaku mendapatkan foto Obama dari email yang dikirim oleh “staf Hillary.” Sebuah pernyataan yang niscaya habis-habisan disangkal oleh kubu Hillary. Mereka menyatakan, tidak pernah melihat email itu. “Kalau ada penyelidikan independen tentang foto itu, kami akan menyambutnya,” kata Howard Wolfson, juru bicara tim sukses Hillary.

Wolfson mungkin benar, tapi foto itu telah menjadi “persoalan” tersendiri. Sebagian publik Amerika termakan dengan isu agama Obama. Sebelum pemilihan di Texas dan Ohio, sebagian orang bahkan sudah beranggapan Obama beragama Islam atau dekat dengan orang-orang Islam. Banyak media di Amerika Serikat dan Inggris yang kemudian latah mengecam Hillary. Dia dan tim suksesnya dituduh telah melancarkan kampanye buruk untuk menjatuhkan pesaingnya. Kantor berita BBC menuding, kampanye semacam itu sudah dilakukan setahun sebelumnya, ketika kubu Hillary menyebut Obama beragama Islam.

Apa tanggapan Obama?

Dia sama sekali tidak membantah. Orang yang mengenakan serban seperti terlihat di foto yang disebarkan oleh drudgereport diakuinya adalah dirinya. Foto itu diambil ketika dia melawat ke Kenya, negara asal dari ayah kandung Obama, dua tahun sebelum dia diusung sebagai salah satu kandidat presiden Partai Demokrat. Berpidato dalam sebuah kampanye, Obama menyatakan, siapa pun tahu, ketika berkunjung ke sebuah negara, seseorang tak bisa menolak untuk didaulat mengenakan baju yang dihadiahkan oleh penduduk negara itu. “Adalah menyedihkan, jika dugaan tentang [foto] itu benar berasal dari kubu Clinton; karena pada saat yang sama dia menekankan perlu memperbaiki hubungan yang lebih baik di seluruh dunia,” kata Obama.

Di musim semi enam tahun lalu itu, kampanye dan persaingan dari dua calon presiden Partai Demokrat memang berlangsung panas. Dua kubu saling memburukkan dan membusukkan. Sentimen ras dan agama disebarluaskan, dan Obama adalah sasaran yang paling rentan diserang karena kulit dan latar belakang keluarganya yang berasal dari Afrika. Dia dianggap haram memimpin Amerika.

Lalu setelah memenangkan pertarungan di partainya, dan terpilih menjadi presiden Amerika mengalahkan John McCain dari Partai Republik; latar belakang Obama terus dipersoalkan. Dia baru menjabat presiden selama enam bulan, tapi “Birthers”, sebuah kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang percaya dengan teori konspirasi, melancarkan tuduhan: kewarganegaraan Obama diragukan dan sebab itu dianggap tidak bisa menjadi presiden Amerika.

Mereka tidak percaya dengan dokumen resmi Obama, dan menyatakan Obama sebetulnya lahir di Kenya atau Indonesia. Mereka juga tidak perduli dengan fakta bahwa andai pun benar Obama lahir di luar negeri, tapi salah satu orang tuanya adalah warga Amerika dan itu berarti Obama adalah tetap warga Amerika.

Semua tuduhan itu bisa saja dianggap sebagai kurang kerjaan, tapi Birther bukan gerakan remeh kendati mungkin tidak begitu popular di Amerika. Lou Dobbs, wartawan CNN, malah memperbesar kontroversi yang ditiupkan Birther dengan terus melemparkan pertanyaan tentang kewarganegaraan Obama. Pembawa acara radio beraliran kanan Rush Limbaugh mengulang-ulang topik kewarganegaraan Obama. Lalu kelompok konservatif yang sudah tidak senang dengan terpilihnya Obama sebagai presiden, dengan senang hati menerima semua rumor yang menjelekkan Obama. Mereka seperti mendapatkan amunisi baru, setelah di masa kampanye, gagal menuduh Obama sebagai pemakai narkoba, homo dan negro.

Tuduhan-tuduhan yang memburukkan dan membusukkan seseorang karena sentimen ras, agama, dan latar belakang keluarga seperti yang pernah terjadi pada masa kampanye calon presiden Amerika itu; juga berlangsung di Indonesia. Diulang-ulang dan bisa jauh lebih buruk. Dulu, istri Susilo Bambang Yudhoyono pernah diisukan beragama Kristen, ketika SBY untuk kali pertama maju ke Pemilihan Presiden 2004. Di musim kampanye 2009, telah disebarkan desas-desus bahwa Herawati, beragama Katolik. Herawati adalah istri Boediono calon wakil presiden dari calon presiden SBY.

Namanya juga isu, tentu saja tak terlalu jelas darimana asalnya gosip tentang agama Bu Hera, kecuali dari selebaran yang dibagi-bagikan di Asrama Haji, Medan. Saat itu Jusuf Kalla yang bertarung sebagai calon presiden berkampanye di sana. Lalu, seolah memang sudah menunggu, selebaran berisi isu agama Bu Hera diterkam oleh kubu SBY-Boediono. Dianggap sebagai kampanye super negatif. Rizal Mallarangeng, juru bicara tim kampanye SBY-Boediono tak hanya mengancam melaporkan kasus selebaran di Asrama Haji Medan ke Bawaslu, melainkan menuntut Kalla untuk meminta maaf. Kalla terbahak dan balik menuduh Rizal telah salah alamat, karena selebaran itu sama sekali tidak berhubungan dengan JK-Wiranto.

Kini, dua calon presiden, Prabowo Subianto dan Joko Widodo berikut keluarga dan masa lalu mereka tak luput dari sasaran kampanye busuk. Jokowi dianggap sebagai bukan muslim dan hajinya dinilai pencitraan; seolah menjadi nonmuslim adalah dosa. Agama ibunya Prabowo yang Kristen dibesar-besarkan. Anak lelakinya yang berkarir sebagai perancang mode diolok-olok dan direndahkan. Jokowi dituduh berbohong karena menutupi asal-usul keluarganya. Dianggap keturunan Cina, kendati seluruh keluarganya sudah membantah dan menjelaskan dengan terang. Kewarganegaraan Prabowo diungkit-ungkit padahal sudah sejak 1998 yang bersangkutan sudah menyatakan menolak menjadi warga negara Jordania.

Benar, agama dan ras seperti juga masa lalu bisa menjadi sesuatu yang buruk sehingga menjadi bahan kampanye paling murah yang bisa dijual mahal. Ia bisa didaur-ulang untuk menuai simpati atau kebencian, menciptakan kebencian atau rasa iba. Memalukan tentu saja, tapi kekuasaan seringkali diperoleh dengan cara-cara yang sungguh memuakkan dan tidak adil.

Di musim pemilu seperti sekarang, celakanya, sebagian media ikut menyulap meja redaksinya menjadi  tungku api besar. Desas-desus dijadikan fakta dan fakta dijadikan prasangka. Sebagian lagi dengan terang-terangan memihak pada kepentingan para pemilik modal yang memilih berkubu dengan Jokowi atau Prabowo. Lalu, tim sukses dan para pendukung bertepuk tangan mengelu-elukan calon mereka masing-masing seolah manusia paling saleh.

Ya, ini memang musim pemilu; dan enam tahun lalu itu, meskipun dibusukkan dan direndahkan, Obama bukan saja terpilih sebagai calon presiden dari partainya tapi juga terpilih sebagai presiden Amerika. Hillary yang tak berdaya kemudian dijadikan menteri luar negeri. Publik Amerika mengangkat gelas kemenangan, biarpun sebagian kecil orang di Birther terus menebarkan kebencian. Mungkin hingga sekarang.

 

Artikel ini juga bisa dibaca di blog Yahoo.com

Iklan