p-jPrabowo dan Joko Widodo fasih membaca Al Quran. Suara mereka merdu. Bacaannya tartil. Kenapa Jusuf Kalla terus tertawa?

Rusdi Mathari
SUASANA di Ruang Jepara Istana Merdeka, malam itu mendadak hening. Para tamu undangan yang duduk bersila nyaris tak bersuara. Di panggung setinggi 50 cm berukuran 2×4 meter yang dipasang menepel ke dinding sebelah timur ruangan, Prabowo Subianto duduk bersila. Dia menghadap ke rekal, semacam meja kecil yang di atasnya diletakkan Al Quran. Peci hitam dan kemeja kokonya seperti baru.

Assamulaikum wa warahmatullahi wa barakatuh…” Prabowo mulai memberi salam. Para undangan serempak membalas salamnya.

Setengah menit kemudian, dia mulai melafaskan ta’awwudz, doa permohonan berlindung dari syetan yang dikutuk. Wajahnya tenang. Penuh percaya diri. Lalu mengalirlah alunan ayat-ayat dari mulut Prabowo.

Dia membacakan surat Al Baqarah, dimulai dari ayat 124. Ayat itu dan seterusnya, mengisahkan perjuangan Nabi Ibrahim a.s dan sekelumit tentang kewajiban bagi seorang pemimpin. Suaranya terdengar merdu dengan cara membaca yang juga jelas dan fasih. Entah di mana dia belajar tajwid dan nahwu.

Din Syamsuddin, Said Aqil Siradj dan Amidan yang duduk bersila di sebelah kanan panggung manggut-manggut. Mata mereka tak henti memandang ke Prabowo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang duduk di barisan depan, di depan panggung juga serius melihat ke Prabowo yang sedang mengaji. Tampak sejumlah menteri duduk sebaris dengannya termasuk Menteri Agama sementara, Agung Laksono; kecuali Muhaimin Iskandar. Entah ke mana dia.

Prabowo sesekali mengangkat tangan kanannya dan diletakkan di telinga, persis seperti orang sedang berazan. Matanya kadang terpejam, tak memperhatikan Al Quran di depannya. Dia seperti hafal betul dengan ayat-ayat yang dibacakannya. Sewaktu sampai pada ayat 126 yang mencantumkan doa Nabi Ibrahim, Prabowo membacanya berulang hingga tiga kali.

Tepat ketika ayat itu dilantunkan; Jusuf Kalla dan Amien Rais yang duduk bersebelahan di barisan kedua di belakang SBY dan para menteri, terkantuk. Kepala mereka beberapa kali terlihat lepas tertunduk. Aburizal Bakrie mendekap kedua lututnya dan asik memainkan jempol kaki. Anis Matta memperhatikan tingkah Aburizal itu.

Hanya Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo yang tertunduk. Dia duduk di barisan paling belakang. Matanya  berkaca-kaca. Dia mungkin tak menyangka, kakaknya yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di luar negeri, fasih melantukan ayat-ayat Al Quran, kendati dia sendiri tak mengerti arti ayat-ayat yang dibacakan kakaknya. Barangkali pula, Hashim sedang mengingat mendiang kedua orangtuanya.

Hanya lima ayat yang dibaca oleh Prabowo. Dia berhenti di ayat 129, mengakhirinya dengan bacaan “shadaqallahu al adhiim” lalu kembali mengucapkan salam. Para udanngan kembali membalas salamnya.

Prabowo turun dari panggung, mendekat ke arah SBY duduk, lalu membungkuk memberi hormat. Ruang Jepara mulai sedikit gaduh. Prabowo berjalan ke tempat duduknya semula, di sisi kiri panggung.

Joko Widodo yang juga duduk di sana, berdiri menyambutnya. “Selamat ya mas,” dia memajukan tangan, menyalami lalu memeluk Prabowo . Prabowo membalas dengan merangkul Jokowi. “Terima kasih dik,” katanya. Mata mereka menerawang, memantul ke tembok Istana.

Ruang Jepara malam itu memang berubah. Kursi-kursi jati berukir yang biasa digunakan para tamu Presiden SBY, disingkirkan. Meja besar dan beberapa lemari dipindahkan ke ruangan lain. Sebagai ganti kursi-kursi itu, dihamparkan dua karpet besar dan tebal berwarna merah dan cokelat pucat, bermotif kembang sepatu. Barang lama yang dibiarkan di sana hanyalah lukisan Presiden SBY berpeci dan mengenakan jas hitam dengan bintang kehormatan di dada sebelah kiri. Lukisan itu diletakkan di sebelah kiri panggung. Di sebelah kanan panggung ada bendera Merah Putih yang diikatkan ke tongkat setinggi orang dewasa, yang dipasak ke kotak kecil berbahan kayu.

“Para hadirin yang kami muliakan, kini kami persilakan Bapak Joko Widodo untuk naik ke panggung,” pembawa acara dari Protokol Istana memecah kegaduhan. Ruang Jepara kembali hening. Di panggung, seorang panitia terlihat membuka lembara-lembaran Al Quran, mencari halaman surat dan ayat yang hendak dibaca oleh Jokowi.

Jokowi berjalan menuju ke depan panggung. Tepat di depan SBY, dia membungkuk, memberi hormat; sama dengan yang dilakukan oleh Prabowo. SBY memberi isyarat, dan Jokowi segera berlalu menuju panggung.

Dia duduk di tempat Prabowo duduk, di belakang rekal, meja kecil yang di atasnya diletakkan Al Quran itu. “Assalaamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…” Jokowi menyampaikan salam. Para tamu pun membalas salamnya.

Suasana menjadi senyap. Jokowi memandang lama Al Quran di meja yang disorot lampu 45 watt. Kalla terlihat gelisah. “Au’duzubillahi minasyaitan ni arrajiim…” suara Jokowi mulai terdengar. Kini, Kalla tersenyum.

Mengambil napas sebentar, Jokowi lantas melantunkan ayat-ayat dari surat An Nissa. Dia memulai dari ayat 135, ayat yang berkisah tentang perintah kepada pemimpin untuk berbuat adil dan tidak memutarbalikkan kata-kata. Sama dengan Prabowo, suara Jokowi terdengar merdu. Agak pelan memang, tapi pembacaannya juga terang dan jelas. Beberapa ayat dibacanya dengan penuh tekanan dan tartil.

Din, Aqil, dan Amidan seperti terpengarah. Kalla cekikikan. “Apa saya bilang…” katanya bergumam.

Ketika sampai pada ayat 140, Jokowi membacanya berulang hingga tiga kali. Dia membaca ayat itu sambil memejamkan mata. Penuh penghayatan. SBY terkesima. Anies Baswedan terisak. Mahfud MD yang duduk di sebelah Anis, memandangi langit-langit. Amien berbisik ke Hatta. Yusril Ihza Mahendra tak acuh. Kalla tetap bercekikikan.

Usai membaca bacaan yang artinya “Maha benar Allah dengan segala firmannya” dan mengucap salam, Jokowi turun dari panggung. Berjalan menuju tempat SBY, membungkuk sebentar lalu kembali ke tempat duduknya.

“Selamat ya dik,” kini giliran Prabowo berdiri menyambut Jokowi. Dia memeluk Jokowi, dan Jokowi membalas dengan rangkulan. “Maturnuwun mas,” jawabnya.

Cukup lama mereka berangkulan. Seolah baru bertemu saudara yang hilang, dan karena itu tak hendak melepaskan. Keduanya pun mulai tersedu-sedu. Jokowi menyodorkan sapuntangan warna merah kepada Prabowo. Sebaliknya, Prabowo juga menyodorkan saputangan putih kepada Jokowi.

Suasana kembali riuh mirip suara hujan yang berjalan di kejauhan. Sebagian tamu sibuk memencet telepon seluler. Mereka mungkin mengabarkan suasana di Ruang Jepara. Di pojok kanan sebelah panggung; Din Syamsuddin, Aqil Siradj dan Amidan serius berunding. Mereka tampaknya tak bisa mengambil keputusan akhir.

Di pojok ruangan di dekat pintu masuk, Kalla menelepon seseorang sambil berjalan mondar-mandir. Dia rupanya berbicara dengan Megawati. “Tenang Bu, saya jaga. Pak Jokowi mantap. Suaranya merdu. Bacaannya fasih,” katanya.

SBY dan Dipo Alam saling pandang. Sudi Silalahi geleng-geleng kepala. Agung Laksono seperti orang bingung.

“Terima kasih Pak SBY. Bapak sudah bersedia memberi tempat untuk acara ini,” kata Kalla, yang tiba-tiba sudah muncul di depan SBY sembari mengulurukan tangan.
“Terima kasih? Ini acara apa?” balas SBY.
“MTQ Pak. Musabaqah tilawatil Quran. Lomba membaca Al Quran.”
“Loh?”
“Besok malam lomba azan. Pesertanya, saya dan Pak Hatta,” kata Kalla sambil terkekeh.

Dia terus tertawa malam itu, meskipun Ibu Mufidah sudah berkali-kali menguncang-guncang tubuhnya. “Pak, bangun Pak. Istighfar,” kata Mufidah.

Kalla rupanya tak selesai bermimpi.

Iklan