Cak Nun di STAIN KudusManusia berdaulat sebab diciptakan oleh Allah, dan yang berdaulat atas manusia hanyalah Allah. Karena itu, kalau ada lembaga yang mengharam-haramkam sesuatu yang sebetulnya halal, lembaga itu tidak punya kedaulatan atas manusia untuk mengikuti fatwa mereka.

oleh Rusdi Mathari
Kamis malam pekan silam, saya datang terlambat ke Kampus STAIN Kudus, di Jalan Kudus Pati, Ngembal Rejo, Kudus, Jawa Tengah. Rencana saya menyambut dan menemani Cak Nun di halaman kampus, tidak kesampaian, sebab dia sudah lebih dulu berada di aula yang menghadap lapangan, yang di ujung utaranya ada panggung untuk Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Saya menuju gedung aula, masuk ke ruangan yang di depan pintunya dijaga beberapa menwa dan panitia, berbelok ke kiri ke koridor, lalu masuk ke ruangan tempat Cak Nun bersila di karpet hijau yang sudah usang dan bahannya sudah banyak yang rontok.

Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang, yang ujung lengannya tidak dikancing. Celananya putih, berbahan seperti dril. Di sebelah kanannya, ada Sabrang Mowo Damar Panuluh, anak sulungnya. Di depan mereka ada beberapa anak muda, KH. Nurul Huda [asal Demak], rektor STAIN, beberapa dosen, dan dua anggota DPR.

Saya duduk di dekat Muzakki, adik Cak Nun yang bersandar di salah satu tembok, agak jauh dari Cak Nun. Mas Zaki mempersilakan saya mendekat ke Cak Nun tapi saya menolak. Saya datang terlambat dan menurut saya, tidak pantas bila langsung mendekat ke kumpulan orang yang sudah lebih dulu asik berbincang. Mas Helmi yang rajin menuliskan laporan tentang acara Cak Nun dan Kiai Kanjeng, yang duduk di sebelah kiri Cak Nun melihat saya dan memberi kode agar saya mendekat. Saya mengangguk dan perlahan mendekat ke Mas Helmi, duduk bersila di belakangnya.

Di tengah lingkaran itu, ada nampan plastik berisi ubi rebus, pisang, dan setumpuk jeruk. Cangkir-cangkir berisi kopi juga ada di depan orang-orang itu. Pemandangan seperti itu, sering saya lihat di pesantren-pesantren ketika para kiai dikelilingi para tamu. Beberapa kali saya melihat Cak Nun menyalakan dan mengisap kretek. Wajahnya tampak lelah. Sesekali dia tersenyum dan menjawab beberapa pertanyaan. Sabrang meninggalkan Cak Nun, berkumpul ke Abhisam, kawan saya, yang duduk di sebelah Mas Zaki.

“Baju yang disebut sebagai pakaian muslim yang berkantong dua di sisi kiri-kanan, itu baju Cina. Sekarang disebut pakaian muslim, disebut pakaian ustad.”

Saya tak tahu Cak Nun sedang menjelaskan apa sewaktu menyebut soal pakaian Cina itu. Saya hanya memandangi wajahnya dan merasa tak berhak menguping apa yang dia bicarakan dengan orang-orang itu. Dua atau tiga kali, Cak Nun menoleh ke arah saya, sebelum seorang laki-laki, keturunan Arab tanpa basa-basi datang dan langsung duduk di antara Mas Helmi dan Cak Nun. Saya mendengar beberapa orang memanggil laki-laki itu habib.

Dia bercelana jins hitam, kaus hitamnya dibalut rompi berwarna hijau khaki, kepalanya ditutup topi kain warna hitam semacam kopiah. Rambut di atas dua telinganya berwarna pirang. Mungkin sengaja disemir. Saya melihat dia mengakrabkan diri dengan Cak Nun. Kata orang-orang, si habib adalah teman lama Cak Nun. Wallahualam.

Sekian menit kemudian, dari balik pintu kaca di koridor, beberapa orang memberi isyarat agar Cak Nun segera ke panggung. “Sekarang?” kata Cak Nun.

Saya tak tahu dia bertanya pada siapa, tapi beberapa asistennya menyahut dan mengiyakan. Orang-orang segera berdiri. Saya membereskan cangkir-cangkir dan nampan di depan Cak Nun. Sebelum berdiri, Cak Nun menyerahkan sebungkus rokok ke saya. Entah untuk apa. Mungkin untuk saya, atau barangkali untuk disimpankan karena mungkin dia tahu, saya akan kembali duduk di belakangnya di atas panggung seperti di Temanggung. Nanti, di luar pintu aula, saya menyerahkan rokok Cak Nun ke Yudis, salah seorang asisten Cak Nun.

Saya berdiri menunggu Cak Nun bergerak tapi beberapa saat sebelum meninggalkan ruangan, rektor STAIN dan beberapa orang meminta berfoto bersama Cak Nun. Di luar ruangan, para menwa sudah bersiap menunggu Cak Nun. Selesai rektor berfoto, saya segera keluar lebih dulu, berjalan di depan Cak Nun dan rombongan. Di teras aula, para mahasiswa sudah menyemut ingin bersalaman dengan Cak Nun tapi para menwa terus membawa Cak Nun, berjalan di sebelah kiri lapangan di sisi pagar lapangan basket.

Mendekati panggung, orang-orang semakin berkerumunan. “Pinggir mas, pinggir mbak,” saya mencoba meminta beberapa orang yang berkerumun di sisi kiri panggung untuk memberikan jalan, agar Cak Nun bisa naik ke panggung. Cak Nun dan Sabrang naik ke panggung dengan agak susah payah karena orang-orang terus berebut hendak menyalami keduanya. Cak Nun tersenyum. Sabrang tampak tenang.

Di atas panggung, Cak Nun menyambut Kiai Nurul Huda, rektor STAIN, para dosen dan seorang dalang. Mereka naik ke panggung dari sisi kanan. Saya berdiri di sisi kiri menutup jalan ke atas panggung agar tidak ada lagi yang naik. Dua menwa yang wajah mereka mirip perwira remaja yang masih polos berjaga di bawah, di ujung tangga panggung. Saya duduk di belakang Cak Nun. Abhi saya lihat sudah duduk di belakang Sabrang.

Dari atas panggung itulah, saya melihat dan baru menyadari, lapangan berumput di depan aula di halaman tengah kampus STAIN, penuh lautan manusia. Sebagian besar adalah mahasiswa STAIN, yang lain adalah warga Kudus. Laki-laki dan perempuan. Sebagian datang dengan membawa keluarga mereka. Ibu-ibu menggendong bayi. Dari seorang kawan, saya tahu ada seratusan orang dari Rembang juga datang ke STAIN Kudus, ingin melihat dan mendengarkan pengajian Cak Nun. Jarum pendek di arloji saya menunjuk ke angka sembilan dan jarum panjangnya mengarah ke angka tiga lebih sedikit. Sudah sekitar pukul 21.17.

Jamaah yang duduk di depan panggung, bersila di tikar yang disediakan panitia. Agak ke tengah hingga ke belakang mendekati teras aula, mahasiswa dan warga duduk di atas kertas kado warna perak yang dibeli dari para pedagang asongan, atau koran yang dibawa dari tempat tinggal mereka. Pedagang asongan berlalu-lalang di tengah jamaah menjajakan minuman.

Sejak berbelok ke kiri dari Jalan Pantura arah Rembang, menuju jalan ke Kampus STAIN, saya memang merasakan kemeriahan. Di jalan itu hingga ke halaman kampus, saya seperti memasuki areal pesantren. Perempuan-perempuan berjilbab, laki-laki bersarung dan berpeci memenuhi kiri-kanan jalan. Halaman kampus hingga ke luar pagar penuh dengan kendaraan. Satpam, menwa, polisi berjaga di pintu gerbang. Menyalakan senter, meniup peluit.

Meskipun sudah empat kali muncul di Kudus memberikan pengajian dan hiburan, malam itu adalah pengajian pertama Cak Nun di kampus STAIN. Dia seolah ditunggu di kampus itu, dan Cak Nun memang ditunggu. Bagai saudara yang lama merantau yang malam itu disambut seluruh anggota keluarga, ditunggu oleh-olehnya, dinanti cerita-ceritanya. “Jalan ini biasanya sepi mas,” kata Udin, salah satu panitia.

Seperti yang biasa dan selalu dilakukan Cak Nun, sebelum memulai menyumbangkan pemikiran, membagi perspektif dan berdialog, dia mengawali semuanya, dengan mengajak seluruh yang hadir membaca al Fatihah, pembuka dari semua surat al Quran. Mengirimkannya untuk Nabi Muhammad saw., para malaikat, para orang tua dan sanak saudara. Untuk mereka yang sedang berbahagia dan yang sedang kesusahan.

Sesudahnya, dia mengajak seluruh jamaah bersyahadat, menyaksikan dan mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah. “Bila Allah tidak menciptakan engkau ya Muhammad, maka tidak akan Allah ciptakan seluruh alam ini,” kata Cak Nun.

Jamaah kemudian diajak bersalawat, memuji kanjeng Nabi sebagai bentuk kerinduan dan penghormatan. “Sidnan Nabi, sidnan Nabi, sidnan Nabi… Sidi Muhammad amin quthbi habibin-Nabi…” [Aku turuti perintahmu ya Nabi, kutinggalkan laranganmu ya Nabi… Ampunan Allah yang kucari, syafaatmu di akhirat kunanti…]

Terjemahan salawat “Akhlaqul Karimah” [perilaku yang terpuji] itu cukup banyak, dan semua adalah bentuk puji-pujian kepada Nabi. Dalam beberapa kesempatan, Cak Nun misalnya, mengganti syairnya dengan “Siapa yang cinta, siapa yang cinta pada dunia… Dunia akan, dunia akan meninggalkannya…”

Seluruh orang larut bersalawat. Mahasiswa, warga, anak-anak adalah orang-orang biasa, yang setiap hari akrab dengan salawat. Mereka menundukkan wajah. Memejamkan mata. Tangan mereka menengadah. Nama Nabi mereka sebut berkali-kali. “Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengutus Nabi Muhammad saw. Dialah mutiara, dialah permata, dan kami ini hanyalah kerikil dan batu,” suara Cak Nun memecah koor panjang salawat.

Teriakan “Allah” dan “Allahumma shalli ala Muhamad” bersahutan dari belakang dan depan panggung. Angin berembus lembut malam itu, seolah hendak menyapu udara di Kudus yang panas. Dan terasa semakin sejuk, ketika Cak Nun meneruskan mengajak jamaah bersalawat “Alfa Salam” [seribu salam].

Shalatun minallaah wa alfa salaam,‘alal mushthafa ahmad syarifil maqam. Salaamun salaamun kamiskil khitam ‘alaikum uhaibaa bana yaa kiram… [Salawat dari Allah dan seribu salam untukmu ya Mustafa Ahmad yang memiliki kedudukan yang mulia. Salam dan salam sebagai penutup yang baik, Atasmu wahai kekasih-kekasihku yang mulia…]

Saya melihat para mahasiswa yang duduk di depan panggung, menunduk semua. Mata mereka terpejam. Mulut mereka terus bersalawat. Seorang di antara mereka, laki-laki muda berbaju batik warna biru lengan pendek, menunduk terisak. Air mata adalah tanda kelembutan, dan lewat Cak Nun, Allah selalu membelai hati orang-orang yang tidak berdaya. Orang-orang yang dikalahkan. Orang-orang yang tidak dianggap. Orang-orang yang dipandang sebelah mata.

Seperti di Temanggung, pengajian Cak Nun di STAIN Kudus masih seputar tentang kedaulatan “Sinau Kedaulatan bersama Cak Nun.”

Belajar kedaulatan, kata Cak Nun, bukan melulu soal politik melainkan perkara tauhid. Pemilik kedaulatan yang sesungguhnya adalah Allah. Manusia hanya dipinjami sebagian dari kedaulatan Allah. Kalau manusia merasa memiliki kedaulatan dan disangka berasal dari diri mereka, berarti ada Fir’aun di dalam diri mereka. “Karena itu melalui al Fatihah dan serangkaian salawat, fir’aun-fir’aun di dalam diri kita perlahan-perlahan dicampakkan keluar,” kata Cak Nun.

Dia menjelaskan, bangsa Indonesia saat ini belum berdaulat. Pola pikir dan kreatifitas rakyatnya masih meniru dari luar. Kecantikan misalnya, diukur dengan standar bagaimana orang barat mengukur kecantikan. Orang pesek, katanya tidak cantik.Orang yang berkulit tidak putih katanya tidak cantik. Padahal semua itu hanya ukuran orang Barat menilai kecantikan, dan celakanya banyak orang yang mempercayainya.

Penjelasan Cak Nun itu menegaskan yang disampaikan Sabrang yang berbicara setelah rektor STAIN. “Memangnya kenapa kalau hidung kalian pesek? Memangnya kenapa kalau kita berkulit cokelat? Siapa yang berdaulat atas kita? Apa hak mereka menilai kita cantik dan tidak cantik?” kata Sabrang.

Cak Nun karena itu mengingatkan, yang paling berdaulat atas diri manusia hanya Allah. Hanya Allah pemegang saham atas seluruh ciptaannya termasuk manusia, dan tidak seorang pun yang berdaulat atas manusia lainnya.

Dia memberi contoh musik Kiai Kanjeng, yang menggunakan alat-alat musik Jawa, dimaksudkan sebagai kedaulatan untuk bermusik, tidak peduli apapun penilaian manusia. Sementara di Indonesia dipandang sebelah mata, Kiai Kanjeng sudah melalang buana. Ke penjuru Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa. Diminta tampil di acara sidang bahasa Arab dunia, mengisi acara di depan para pastur dan uskup di Vatikan, Roma. “Ini adalah pementasan Kiai Kanjeng yang ke -3.634, tapi di sini, tak satu pun stasiun televisi nasional yang mau nanggap Kiai Kanjeng. Tidak masalah, karena bukan itu, cita-cita Kiai Kanjeng.”

Contoh lain soal qiraah [membaca al Quran] dan azan yang semuanya meniru suara atau lagu orang Arab melantunkan atau melagukannya. Bukan tidak baik, tapi membaca al Quran atau azan dengan gaya atau cengkok Jawa, misalnya, sebetulnya juga tidak jadi masalah sebab azan atau membaca al Quran bukan ibadah yang wajib dan utama [magdhah], seperti salat. Cak Nun lantas meminta dua mahasiswa yang mahir qiraah untuk tampil ke panggung.

Dia meminta mereka membaca taawuz dan basmalah. Melantunlah bacaan audubillahi minasyaitan nirrajiim dan bismillahirrahmanirrahim dalam lagu yang biasa dikenal selama ini. Lalu, Cak Nun meminta mereka mengganti lagu bacaannya dengan lima jenis lagu berbeda menurut mereka. Awalnya mereka kesulitan, tapi setelah beberapa kali dicoba, keduanya mencoba melepaskan dari gaya dan lagu yang selama ini telanjur dikenal atau ditandai sebagai cara membaca al Quran atau berazan yang seharusnya .

“Jadilah dirimu sendiri. Kita diciptakan Allah sebagai orang Indonesia, harusnya bisa menunjukkan kekhasan Indonesia, bukan menjadi orang Arab, Barat atau lainnya.”

Dari perkara yang serius dan yang tidak serius dibahas secara sederhana oleh Cak Nun. “Apakah kalau ada yang menuduhku kafir, lantas aku jadi kafir? Hanya Allah yang tahu aku kafir atau bukan. Muslim atau bukan. Sesama murid jangan memberi rapor.”

Cak Nun lalu mengajak jamaah bergembira. Bermesraan. Mendengarkan lagu-lagu Kiai Kanjeng. Menjelang mbak Yuli menyanyikan lagu “Laksamana Raja di Laut,” saya menyorongkan asbak seng berwarna perak ke Cak Nun. Tampaknya itu adalah asbak yang dibawa ke mana saja, bila Kiai Kanjeng pentas. Saya mengenali asbak yang sama ketika menemani Cak Nun di Temanggung, dan melihat daki abu rokok yang menempel di asbak itu, ingin rasanya saya mencucikannya agar asbak untuk Cak Nun bersih, seperti asbak yang selalu diperuntukkan bagi Mursyid saya.

Dua mahasiswa, yang bersila persis di depan panggung, yang sejak lagu pertama dilantunkan Kiai Kanjeng selalu berjoget kegirangan diminta naik ke panggung oleh Cak Nun. Seorang mengenakan jaket hitam, seorang mengenakan ikat kepala [udeng]. Jamaah riuh.

Selesai Mbak Yuli menyanyi, Cak Nun mengajak mahasiswa yang mengenakan jaket hitam berdialog. Peluh menghiasi wajah anak muda berkulit gelap itu.

“Namamu siapa?”
“Badrun.”
“Badrun apa?”
“Badrun Qamar.”
“Itu nama yang bagus. Badrun itu ‘purnama’ qamar itu ‘bulan’. Kamu itu bulan purnama.”
“Kamu mahasiswa?”
“Iya.”
“Fakultas apa?”
“Usuludin.”
“Kenapa kamu kok njoget?”
“Berdaulat!”
“Tujuanmu berjoget?”
“Menghibur orang!”

Jamaah semakin riuh. Di langit penuh bintang. Bulan tinggal separuh.

Cak Nun bertanya pada jamaah, apakah berjoget baik atau tidak, yang dijawab serempak oleh jamaah “Baik.” Pengajian kata dia, seharusnya terbuka untuk orang-orang yang mencari kebenaran. Bukan hanya untuk orang-orang baik, orang-orang yang sudah merasa benar. Saat Cak Nun berdoa, Badrun menurunkan badannya, bersimpuh dengan dua lututnya, menengadahkan kedua tangan, sembari kencang menyahut “aamiin.”

“Ya sudah, doamu sudah memancar ke langit, saking memancarnya, yang tinggal hanya gosongnya kayak kamu.”

Menurut Cak Nun , Allah menyembunyikan mutiara di tempat-tempat yang tidak dikatakan. Menyembunyikan wali-walinya di tempat-tempat yang tidak diketahui manusia. Jamaah semakin riuh. Badrun tertawa. Beberapa jamaah menyahut “Allah” dan “Allahumma shalliala Muhammad.”

Menjelang pengajian ditutup, Cak Nun mempersilakan Sabrang menyanyikan lagu-lagu dari Letto, grup musik yang melambungkan nama Sabrang alias Noe. Jamaah perempuan terutama histeris. Belasan ponsel berkamera dijunjung, memancarkan lampu ke arah panggung. Sabrang menyanyikan dua lagu Letto. Sesudahnya, seperti biasa, Cak Nun mempersilakan seluruh jamaah berdiri untuk berdoa. Ketika Cak Nun memberi pengantar doa, saya membereskan cangkir kopi, gelas plastik, dan beberapa nampan sebelum menghampiri menwa yang berjaga di sisi kiri panggung.

“Teman menwa ada berapa dik?”
“Ada enam mas.”
“Kurang. Tolong sampean minta panitia yang berjaket almamater segera datang ke mari. Nanti kalian bergandengan tangan, membentuk pagar betis di depan panggung.”
“Siap mas.”

Dua anggota menwa berlari menuju ke aula, tempat panitia berkumpul. Beberapa menit kemudian mereka kembali dengan membawa beberapa mahasiswa. Selesai Cak Nun berdoa, para menwa dan mahasiswa segera membentuk pagar betis di depan panggung. Beberapa kawan dari Maiya Semarang ikut berjaga. Jamaah mulai berebut ingin bersalaman dengan Cak Nun. Jam di arloji sudah menunjukkan pukul 12.30.

Satu per satu, jamaah bersalaman. Ribuan orang. Saya menghalangi dan meminta pengertian dari beberapa orang yang memaksa naik panggung ingin berfoto dengan Cak Nun. Sampai setengah jam, jamaah yang ingin bersalaman seperti tak selesai-selesai. Di bagian belakang, Sabrang yang duduk bersandar dikerubungi banyak orang.

Saya yang berdiri di belakang Cak Nun, melihat dia tampak kelelahan. Beberapa asisten Cak Nun lantas memberi isyarat pada jamaah, untuk tidak bersalaman. Cak Nun segera diajak ke aula, tempat dia menunggu sebelum pengajian dimulai. Beberapa orang memaksa masuk, mencoba menerobos pintu yang dijaga menwa. Seorang mahasiswa, yang mengenakan kaki palsu mengadu pada saya, ingin sekali bersalaman dan berfoto.

Ketika Cak Nun keluar dari ruangan menuju mobil Elgrand warna abu-abu [bukan Serena seperti yang saya tulis sebelumnya] yang menunggu di ujung teras aula, puluhan mahasiswa masih berebut menciumi tangan Cak Nun. Seorang mahasiswa tiba-tiba memeluk dan mencium wajah Cak Nun. Dia meminta penutup kepala putih yang dibagian tengah atas berwarna merah, yang dikenakan Cak Nun. Cak Nun memberikannya. Mahasiswa itu menciumi penutup kepala Cak Nun.

Dini hari itu, Cak Nun dan rombongan kembali ke Yogyakarta, setelah maraton mengadakan pengajian tiga malam berturut-turut. Selain di STAIN Kudus, dua malam sebelumnya, Cak Nun dan Kiai Kanjeng muncul di Semarang. Malam Rabu pengajian di Balai Kota Semarang, malam Kamis pengajian di Kampus Tembalang, Universitas Diponegoro.

Cak Nun di UnidpKecuali acara di Balai Kota, saya juga mengikuti Cak Nun yang dilangsungkan di Gedung Soedarto, Kampus Tembalang. Sama dengan di STAIN Kudus, saya datang terlambat ke Tembalang. Suara Cak Nun sudah terdengar di luar gedung sewaktu saya berjalan di halaman luar yang penuh mobil mewah, yang belakangan saya tahu adalah mobil-mobil para pejabat teras di Jawa Tengah. Ada mobil wakil gubernur, wakil kapolda, walikota Semarang, kepala kejaksaan negeri dan kejaksaan tinggi dan sebagainya. Acara Cak Nun di Kampus Tembalang Undip malam itu, memang untuk acara pisah-sambut rektor Undip, tapi judulnya masih sama, tentang kedaulatan.

Saya masuk ke ruangan auditorium, yang ruangannya mirip gedung pertunjukan: panggung di bawah dan di kelilingi teras berundak tempat duduk untuk penonton. Di atas teras-teras itu, masih ada balkon. Saya yang bersarung, agak kesulitan masuk karena ruangan sudah sesak dengan manusia. Saya sempat berpikir, malam itu, akan terpaksa hanya menyaksikan Cak Nun dari jauh. Hanya sebagai penonton, sebelum Abhi mengajak saya keluar, ke sisi kiri gedung. Kami berjalan memutar.

Di teras, di ujung sisi kiri gedung, saya melihat Mas Zaki asik merokok. Dia mempersilakan saya masuk lewat pintu yang jaraknya agak dekat ke panggung. Di sana sudah ada Alle, asisten Cak Nun. Dia yang melihat saya dan Abhi, lantas mengajak keluar pintu, memasuki pintu lain, yang tembus ke belakang panggung. “Monggo mas, silakan,” kata Alle ketika saya bertanya, bolehkah saya duduk di panggung.

Saya memberanikan berjalan dari bagian belakang panggung, lalu duduk di sisi kanan, agak jauh dari Cak Nun. Jamaah meluber hingga ke bibir panggung. Di balkon penuh manusia. Di tangga pintu kiri-kanan gedung, orang-orang berdiri berdesakan. Sabrang bersandar ke teras panggung di bagian belakang. Karena saya datang terlambat, saya kira, salawat dan al Fatihah sudah dikumandangkan ketika Cak Nun mulai memberikan perpekstif tentang segala sesuatu yang berpasang-pasangan. “Ada Tuhan ada makhluk, ada rektor ada universitas, ada suami ada istri, ada petani ada sawah.”

Kata Cak Nun, yang dihasilkan oleh universitas mestinya adalah sarjana universal bukan sarjana yang fakultatif. Dia menjelaskan tentang pentingnya memahami filosofi cangkul, pedang dan keris. Pacul adalah alat ekonomi, untuk mencari penghidupan. Pedang adalah kekuasaan dan keris adalah kewibawaan, martabat. “Kalau Anda lulus dari Undip, mana yang lebih penting atau akan Anda cari: pacul, pedang atau keris?”

Jawaban jamaah terpecah. Ada yang menjawab pacul. Sebagian menjawab pedang. Yang lain menjawab keris. “Begini loh mas, mbak, orang memiliki pacul belum tentu punya pedang dan keris. Orang punya pedang tentu memiliki pacul, tapi belum tentu punya keris. Sementara orang punya keris, pasti memiliki pedang dan pacul. Karena itu jadilah Anda semua memiliki keris. Tak perlu memikirkan jadi apa, karena kalau Anda semua menekuni bidang tertentu dengan serius, dengan cara bermartabat, pedang dan pacul akan dengan sendirinya datang menghampiri Anda. Kalau jadi pedagang bukan cari untung tapi berdagang dengan mulia hingga untung.”

Kepada jamaah yang sebagian besar adalah mahasiswa, Cak Nun mengingatkan bahwa prioritas hidup mereka adalah kuliah agar jadi mulia. “Selesaikan kuliahmu. Demi ibu-bapakmu bukan demi dirimu. Dengan demikian dirimu akan mulia.”

Nasehat yang sama juga yang disampaikan Cak Nun kepada mahasiswa-mahasiswa di STAIN di Kudus. Di bagian itu, saya menunduk. Saya teringat ibu-bapak di Situbondo, yang saya kecewakan. Teringat kakak dan adik-adik, yang harapannya pada saya, saya tumbangkan. Mengingat istri dan mertua saya, yang pernah berharap saya menyelesaikan sekolah. Ya Allah, Cak, Cak…  sampean mengaduk-aduk hati saya.

Cak Nun mempersilakan Sabrang maju untuk berbicara. Dia bercerita tentang lima monyet di kandang, yang setiap kali satu monyet berusaha memanjat ke atas kandang untuk mengambil pisang, monyet-monyet yang lain menyeretnya dan menggebukinya. Begitu seterusnya, setiap kali ada monyet yang mencoba memanjat, monyet yang lain akan menyeret kemudian memukulinya. Ketika satu monyet diganti dengan monyet yang baru, monyet yang baru juga akan mengalami hal yang sama. Dan terus berulang bahkan ketika seluruh monyet diganti. Kelakuan mereka tetap sama: menyeret dan memukuli monyet yang berusaha memanjat dan mengambil pisang sebab seperti itulah perilaku yang dianggap sudah biasa. “Seperti itulah kondisi bangsa Indonesia saat ini. Tidak boleh dan tidak bisa melihat orang lain maju dan berbahagia,” kata Sabrang.

Bersama Cak Nun, Sabrang meminta beberapa mahasiswa maju ke depan. Mereka dibagi dalam tiga kelompok untuk merumuskan tentang kedaulatan individu, bangsa, dan ekonomi. Mereka dipersilakan ke belakang panggung untuk berdiskusi. Kiai Kanjeng melantunkan “Alfa Salam.”

Shalatun minallaah wa alfa salaam,‘alal mushthafa ahmad syarifil maqam. Salaamun salaamun kamiskil khitam ‘alaikum uhaibaa banaa yaa kiram…

Saya melihat wajah para pejabat yang duduk di bagian auditorium seperti bingung. Sebagian mereka merapatkan tangan, menopang dagu. Mungkin mereka tidak biasa bersalawat. Barangkali mereka tidak mengerti maknanya. Mungkin mereka tidak menikmatinya. Siapa tahu pula mereka menggerutu, acara pisah sambut rektor diisi salawatan.

Selesai bersalawat itulah, jamaah terdengar riuh sebab para pejabat teras Jawa Tengah, tampaknya meninggalkan acara. Mereka bercipika-cipiki dengan sesama mereka, di tengah-tengah para jamaah, para mahasiswa. Cukup lama. Dari jam dinding yang ditempelkan di tembok di bagian bawah balkon, saya melihat acara basa-basi antara mereka berlangsung dari 21.30 hingga 21.45. Suasana di tengah jamaah agak berantakan karena para mahasiswa yang berusaha menempati teras bekas tempat duduk para pejabat di bagian tengah, terhalang oleh para pejabat yang bersalaman-salaman.

“Tenang semua. Tolong bapak-bapak diberi jalan. Dipersilakan mereka kembali ke tempat masing-masing. Kita beri tempat seluas-luasnya,” suara Cak Nun memecah keriuhan.

Saat para pejabat sudah keluar ruangan, para jamaah bertukar tempat. Cak Nun meminta beberapa orang yang berdiri di pintu masuk di sudut kanan panggung untuk duduk di depan panggung. Saya melihat tiga pemuda, masuk. Mereka bercelana jins ketat warna gelap, bersepatu boot, mengenakan rompi hitam yang dipenuhi paku-paku gemerlap.

Salah seorang tampak berpotongan rambut skin head, kiri kanan pendek, dan membiarkan rambut di bagian tengah kepala. Mirip mohawk. Rambut yang tersisa itu dikuncir ke belakang mirip kuncir Upin, tokoh kartun di serial “Upin dan Ipin.” Enam cincin batu akik, terpasang di jari-jari kedua tangannya. Tiga cincin di jari-jari kanan, tiga cincin di jari-jari kiri.

“Mereka akan tenggelam, kalian akan terbit. Mereka masa silam, kalian masa mendatang,” Cak Nun melanjutkan penjelasannya tentang pejabat.

Menurut Cak Nun, jangan membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa ke masa depan. Yang tidak bisa dibawah keabadian. Masa depan adalah akhirat, dan jabatan tidak akan abadi. Tidak akan bisa dibawa ke masa depan. Dia karena itu mengingatkan, bahwa tidak setitik embunpun jatuh yang tidak dikawal malaikat Allah.

Cak Nun, meminta Kiai Kanjeng melantunkan tembang.

Ning dunyo pira suwene. Njur bali ning panggonane, ning akherat ya sejatine. Mung amal becik ya sangune. Nanging aja ngucap ‘bodo ya ben.’ Golek ilmu kudu telaten. Ning dunyo peteng mripate. Menungsa kesasar dalane. Nuntut ilmu ilang faedahe…” [Di dunia berapa lama sih. Kembalinya ya pasti ke tempat semula yaitu akhirat. Di dunia kok malah buta matanya. Ilmunya tidakbermanfaat. Salat kok malah salah niat…]

Mendengar tembang itu, hati saya seperti ditampar. Saya malu sebagai manusia. Manusia yang selalu sibuk mengejar dunia. Manusia yang selalu kuatir tidak kebagian rezeki. Manusia yang merasa berilmu dan pintar. Manusia yang selalu merasa membela kebenaran dan berbuat baik. Manusia yang bersembahyang tapi tidak tahu siapa yang disembah.

Tembang berakhir, Cak Nun mempersilakan Yos Johan Utama berbicara. Dia rektor Undip yang baru menggantikan Sudarto. Pak Rektor mencerikan pengalamannya suka melihat kuburan terutama bila difitnah atau dicibir orang. “Kembalinya kita ya kuburan. Karena itu tak usah sedih bila difitnah bila dicibir. Semua akan mati. Menjadi manusia itu harus lengkap. Percuma ilmuwan, pintar tapi batinnya tidak pintar.”

Merespons Pak Rektor, Cak Nun menegaskan, Undip beruntung dipimpin oleh Yos. Dia lalu mempersilakan tiga kelompok mahasiswa menyampaikan pandangannya, tentang kedaualatan individu, bangsa, dan ekonomi. Sementara para mahasiswa mulai berbicara dengan dibimbing Sabrang, Cak Nun melompat dari panggung. Berjalan menuju ke belakang panggung di balik pintu sebelah kanan.

Saya menduga dia merokok, mengisap kretek kesukaannya, karena selama kurang-lebih sejam di panggung, saya tidak melihat dia merokok, dan dugaan saya benar, karena belakangan saya diberitahu oleh Abhi: Cak Nun memang merokok di balik pintu. Duduk bersandar di kursi.

Auditorium Sudarto memang dipenuhi penyejuk ruangan, dan saya tahu, sebab itu, Cak Nun tidak merokok. Dia menghormati orang-orang yang tidak merokok. Saya memperhatikan, dua kali Cak Nun ke belakang panggung selama pementasan untuk merokok. Saya berkali-kali melakukan hal yang sama.

Di ujung acara, Cak Nun menjelaskan bahwa manusia berdaulat karena diciptakan Allah, dan yang berdaulat atas manusia hanyalah Allah. Petani berdaulat menanam tapi soal panen adalah urusan Allah, sebab Allah adalah pemilik. Karena itu kalau ada lembaga yang mengharam-haramkam sesuatu yang sebetulnya halal, lembaga itu tidak punya kedaulatan atas manusia untuk mengikuti fatwa mereka.

Cak Nun lalu mengajak jamaah berdoa. Memanjatkan pengharapan kepada yang memiliki dan menguasai hidup. Sesudahnya, saya meminta tiga kelompok mahasiswa minta berbaris di depan panggung agar mahasiswa yang hendak bersalaman dengan Cak Nun dan Pak Rektor tertib.

Di pintu menuju ke luar gedung, beberapa mahasiswa masih menyalami Cak Nun. Saya berjalan di belakangnya. Di sebelah kiri. Ketika ada mahasiswa mencolek dari belakang, Cak Nun menoleh ke arah saya dan menyapa. Saya mencium tangannya. Berjalan di belakangnya. Menemaninya berjalan menuju ke mobil yang sudah menunggunya.

Sepulang dari Tembalang, bersama beberapa teman, saya kembali menemui Cak Nun makan pecel pincuk di sebuah warung di salah sisi Simpang Lima. Sekitar sejaman Cak Nun di warung itu. Berbincang dengan Sabrang dan beberapa orang. Dia kembali ke hotel di tengah Kota Semarang, menjelang subuh. Hotel yang sama, tempat saya dan beberapa kawan menginap.

[bersambung]

Iklan