Kartu pos dari SwissKasus pelecehan seksual terhadap seorang anak TK di JIS yang pernah menghiasi pemberitaan media begitu masif, menyimpan kisah lain yang memedihkan. Kisah dari orang-orang yang tidak berdaya, yang telanjur dianggap sebagai pelaku sodomi.

oleh Rusdi Mathari
Tangis Sisca Tjiong pecah di ruang rapat kecil di Labschool, Jakarta Selatan. Dia tak sanggup bicara saat meminta pendapat Arif Rachman, guru senior Lab School. “Apa yang harus saya katakan pada dua anak saya?” tanyanya terisak.

Ruangan rapat mendadak senyap. Beberapa guru Jakarta International School [JIS] dan orang tua murid yang ikut pertemuan, menunduk. Terisak demi mendengar pertanyaan Sisca. Arif yang berusaha tenang, menyarankan Sisca agar banyak berdoa dan bersabar. Menyerahkan segala ujian kepada Tuhan, karena yang benar pasti benar, dan yang zalim juga akan ketahuan.

Suatu pagi di awal Februari tahun ini, rombongan orang tua murid dan guru JIS, juga Sisca dan Tracy Bantleman memang sengaja menemui Arif di Labschool. Mereka ingin meminta pendapat dan dukungan moral. Sisca dan Tracy, masing-masing adalah istri Ferdinant Tjiong dan Neil Bantleman. Dua nama terakhir adalah guru JIS. Neil adalah kepala sekolah TK. Dia warga negara Inggris. Ada pun Ferdinant adalah warga negara Indonesia. Asisten guru di SD JIS.

Awal April silam, dua guru itu divonis bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap tiga murid TK di JIS. Sebuah majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, lalu mengganjar mereka hukuman 10 tahun penjara berikut denda Rp 100 juta. Sebuah vonis yang niscaya ditolak oleh Neil dan Ferdinand, juga oleh istri mereka.

“Suami saya punya anak kecil, bagaimana mungkin dia melakukan pelecehan pada anak-anak?” kata Sisca.

Apa yang disebut sebagai kasus pelecehan seksual di JIS mengemuka sejak Maret 2014 dan sekitar sebulan kemudian ramai media memberitakan. JIS menjadi sorotan setelah satu orang tua korban menggelar jumpa pers dan menerangkan anaknya yang berusia lima tahun telah disodomi beramai-ramai oleh beberapa petugas kebersihan di toilet sekolah di TK JIS di Pondok Indah. Para orang tua murid JIS kaget. Tidak percaya, sekolah tempat anak-anak mereka, sekolah berstandar internasional yang biaya masuk dan iuran bulanannya mungkin paling mahal di Jakarta, menjadi tempat yang tidak aman. Mereka karena itu mendukung orang tua korban mengajukan tuntutan. Dan benar, selain mengajukan tuntutan pidana pada pelaku, orang tua korban menggugat JIS secara perdata.

Bila membaca petisi orang tua murid, para alumni dan pekerja JIS yang dikirim ke Change.org tanggal 21 Juli 2014, disebutkan, orang tua korban awalnya [21 April] meminta ganti rugi US$ 12,5 juta, tapi sepekan kemudian tuntutannya menjadi US$ 125 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun. Dari besarnya tuntutan itulah, para orang tua murid JIS kemudian berbalik arah.

Mereka meragukan kebenaran kasus pelecehan seksual terjadi di JIS, dan membuat petisi ke Change.org untuk membebaskan Neil dan Ferdinant. “Dengan sangat menyesal, kami kini mempertanyakan apakah memang beliau [orang tua korban] ingin mencari kebenaran, atau barangkali hanya tertarik dengan uangnya.”

Membaca nota pembelaan salah seorang petugas kebersihan JIS atas nama Virgiawan Amin alias Awan, apa yang disebut sebagai kasus pelecehan seksual di JIS, bermula dari laporan orang tua korban ke polisi, 24 Maret 2014. Awan adalah salah seorang petugas kebersihan PT Integrated Service Solution Indonesia yang diperkerjakan di JIS. Bersama empat rekannya, Desember tahun lalu dia divonis penjara.

Berdasarkan laporan orang tua korban itulah, polisi menciduk lima terpidana dari tempat berbeda sekitar dua pekan kemudian. Awan diambil di rumahnya. Agun Iskandar dan Afrischa Setyani, diambil di JIS Pondok Indah. Semuanya pada hari yang sama: 3 April 2014.

Awalnya, Agun dan Afrischa tidak tahu kalau mereka akan dibawa ke kantor polisi. Seorang manajer Integrated Solution meminta keduanya naik ke mobil, dengan alasan, keduanya akan diperbantukan di JIS, di Jalan Pattimura. Yang terjadi, mereka justru di bawa ke Polda Metro Jaya. Dan sebelum diperiksa, mereka dibawa ke Klinik Bio Medika untuk cek medis, yang belakangan, hasil pemeriksaan ketiganya oleh polisi tidak dimasukkan dalam berkas perkara.

Kecuali Afrischa yang didampingi pengacara selama proses pemeriksaan, Awan dan Agun tidak didampingi pengacara dan hari itu, keduanya dijadikan tersangka dan harus menjalani hari-hari, yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan: Awan dan Agun mengaku disiksa secara brutal oleh polisi yang memeriksa.

Pengakuan yang sama juga disampaikan Zainal Abidin dan Syahrial, petugas kebersihan di JIS yang ditangkap belakangan, sewaktu saya menemui mereka di penjara Cipinang. Menurut mereka, polisi yang memeriksa pernah beberapa kali meminta mereka membuka celana, menendang, memukulkan kursi besi, menghantam muka mereka. Mereka juga dinista dengan kata-kata yang menyakitkan. “Polisi yang memukul kami, selalu mengenakan kaus tangan,” kata Syahrial.

Mereka bercerita, polisi sebetulnya ragu atau tidak yakin, mereka adalah pelaku pelecehan seksual di JIS sebab semuanya menolak sangkaan, tapi metode pemeriksaan yang mengerikan yang dilakukan siang dan malan, menghancurkan batas ketahanan mereka sebagai manusia. “Siapa yang tahan dihajar Pak?” kata Agun.

Ketika diciduk polisi, Agun baru beberapa bulan menikah. Istrinya hamil muda.

Dia bercerita, polisi memaksa dirinya dan kawan-kawannya saling “gigit.” Bila Agun diperiksa, penyidik akan bilang bahwa yang lain sudah mengaku dan menyebut namanya. Begitu pula sebaliknya ketika yang lain diperiksa: mereka akan dipaksa mengaku sebab nama mereka sudah disebut oleh yang lain. Karena cara pemeriksaan semacam itu, Zainal bahkan sempat menghajar Awan sebab Awan merasa Zainal telah menfitnahnya untuk perbuatan yang tidak dia lakukan. Keduanya mengaku memang tidak pernah melakukan pelecehan seksual.

“Waktu [diperiksa polisi] itu saya menyebut nama Agun karena saya hanya mau hidup,” kata Zainal.

Selain bekerja sebagai petugas kebersihan, Zainal tercatat sebagai mahasiswa manajemen ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Pamulang, Tangerang. Dia membiayai sendiri kuliahnya dari gaji yang diperoleh sebagai petugas kebersihan.

Muncul belakangan rekan mereka yang lain, Azwar. Polisi mengambilnya tengah malam di rumahnya, 26 April 2014, tapi Azwar meninggal di kantor polisi beberapa jam kemudian. Awan, Zainal, Syahrial mengaku melihat Azwar disiksa oleh penyidik dari malam hingga pagi, dan menjelang tengah hari, Azwar meregang nyawa di toilet tahanan.

Sempat dibawa ke dokter kesehatan yang bertugas di Polda Metro Jaya dan ditolak oleh dokter di sana, Azwar mati di RS Bhayangkara, Kramat Jati. Polisi mendaku, Azwar bunuh diri sebab menenggak cairan pembersih toilet. Keluarga Azwar meyakini, pemuda berusia 27 tahun itu disiksa.

“Mukanya biru-biru, bonyok,” kata Rojali, paman Azwar seperti dikutip Viva.co.id, 27 April 2014.

Kuasa hukum dari lima terpidana menyebutkan, nama-nama penyidik yang menyiksa lima petugas kebersihan JIS. Mereka adalah Brigadir Dior Napitupulu, Brigadir Satu Rachmad Hartono, Brigadir Ariston Sarumaha, Brigadir Satu Satria Nusantoro, Inspektur Satu Rudy Kauntu, dan Komisaris Tejo Yuantoro. Nama-nama itu diberitakan dan ditulis jelas oleh di Kompas.com, Selasa, 17 Februari 2015 di bawah judul “Polisi Akui Lakukan Kekerasan Saat Penyidikan Kasus JIS.”

Disebutkan di berita itu, tim penyidik yang menangani kasus di JIS, secara tersirat mengakui melakukan tindak kekerasan terhadap petugas kebersihan JIS. Tujuannya untuk mengorek keterangan dari para pelaku. Atasan dari tim penyidik, Ajun Komisaris Besar Didi mengatakan, meskipun penyidik melakukan kekerasan, azas praduga tidak bersalah tetap diutamakan. Pemeriksaan pun direkam melalui kamera pengawas dan telah diserahkan ke kejaksaan.

Didi menjelaskan, sebelum [kasus penyiksaan] itu dipersoalkan, polisi telah dipanggil presiden, menkopolhukam, menlu, dan Ombudsman, dan sudah menjelaskan semuanya. Dia mempersilakan pihak keluarga petugas kebersihan yang telah divonis untuk mengajukan kasasi. Dan ini kata Didi, “Kalau pengadilan kemudian menyatakan tidak bersalah, kami tidak peduli. Kami hanya menjalankan tugas.”

Situasi dan opini umum memang tidak menguntungkan kelima petugas kebersihan di JIS ketika mereka diciduk lalu diperiksa oleh polisi. Pemberitaan yang masif telah memojokkan mereka, sebab tak seorang pun yang tampaknya setuju dengan kekerasan seksual apalagi terhadap anak-anak. Ketika mereka disiksa pun, seperti diakui oleh mereka, media pun sudah sibuk memberitakan peristiwa Pemilu 2014. Masalahnya, benarkah mereka juga Neil dan Ferdinant adalah pelaku pelecehan seksual terhadap seorang anak berusia lima tahun hingga belasan kali?

Bersaksi di persidangan kelima Awan dan Agun, ahli patologi forensik Dr Evi Untoro yang membaca dan mempelajari fakta-fakta medis dari tiga rumah sakit menyatakan, kasus [sodomi] yang ditudukan kepada petugas kebersihan di JIS adalah mengada-ada atau tak pernah ada. Argumen Evi, tidak ada penyakit menular pada korban.

Tes HSV-2 [herpes] yang dilakukan pada korban justru mengindikasikan negatif untuk immunoglobulin G [igG], tapi positif untuk immunoglobulin M [IgM]. Padahal dalam pandagan Evi, apabila sodomi terjadi, maka korban [yang berusia lima tahun] akan mengalami trauma dan dipastikan akan terkena penyakit menular seksual.

Kesaksian lain datang dari Criss O’Connor, ahli investigasi dari Australia. Dia sengaja didatangkan oleh JIS, karena berpengalaman selam 30 tahun menyelesaikan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak. Dalam kesaksikannya, Chris menyatakan bahwa anak-anak mempunyai ingatan palsu [false meories]. Ingatan itu bisa ditanam pada anak sehingga anak mampu memberikan jawaban seperti yang diinginkan oleh pihak-pihak yang menanamkannya. Sepanjang kariernya, Chris mengaku baru menemukan kasus seperti yang terjadi di JIS, yaitu satu korban disodomi oleh lima orang dewasa tapi hasil visum dan alat bukti tak menunjukkan adanya kejadian sodomi.

Menjelang kelimanya divonis, Profesor John Kevin Baird, Direktur Eijkman-Oxford Clinical Research Unit Jakarta Pusat menjelaskan kepada harian The Jakarta Globe, tentang perbedaan antara dua tipe antibodi dalam tes tersebut, dan perbedaan itu sangat penting. Kevin sebelumnya telah diminta untuk meninjau bukti laboratorium klinis tes pada korban, dan dia menemukan tidak ada bukti medis bahwa telah terjadi sodomi atau kekerasan seksual.

Dia menjelaskan, tes terhadap IgG dan IgM bukanlah untuk virus HSV-2 itu sendiri, melainkan untuk antibodi yang dibentuk tubuh manusia pada saat mendapat serangan virus. Semacam penemuan jejak. Jejak itu terkadang bisa mengecoh bila dikaitkan dari mana asalnya, dan apa penyebabnya. Singkatnya, menurut Kevin, semua tuduhan kepada lima petugas kebersihan yang bekerja di JIS adalah tuduhan palsu, tapi majelis hakim menolak semua kesaksian ahli itu.

Di persidangan Neil dan Ferdinant, hakim juga menolak hasil uji Anuskopi yang dilakukan rumah sakit Women’s and Children’s Hospital di Singapura terhadap korban, yang tidak menemukan tanda-tanda pelecehan seksual.

Tiga hari menjelang Natal tahun lalu lalu, kelima petugas kebersihan di JIS divonis penjara. Kelimanya dianggap terbukti melakukan sodomi. Afrischa dipenjara tujuh tahun. Awan, Agun, Zainal, dan Syahrial dipenjara delapan tahun. Mereka juga didenda masing-masing Rp 100 juta.

Sebelum divonis, beberapa kali saya datang ke persidangan mereka yang tertutup. Menunggu di bangku panjang di luar gedung sidang bersama ibu-ibu orang tua murid JIS yang tak berhenti memberikan dukungan pada mereka, juga dukungan untuk Neil dan Ferdinant. Bahkan ketika lima petugas kebersihan di JIS dipenjara, para orang tua murid JIS tetap rutin mengunjungi mereka. Sekadar membawa makanan, membelikan pakaian, memberi sedikit uang, atau menyampaikan kartu pos yang dikirim oleh bekas guru-guru JIS yang sudah tinggal di beberapa negara. Salah satunya berasal dari Kristan Julius.

Kartu pos berstempel pos 29 Januari 2015 itu dikirim untuk Zainal melalui alamat JIS di Jakarta. Gambarnya danau biru dan sebuah perahu yang diikat pada batang pohon pinus.

Kartu pos dari Swiss

“Kami berpikir dari Anda di sini, di Swiss. Danau ini mengingatkan saya bahwa meskipun ada tantangan dalam hidup kita, kita masih bisa menemukan tempat-tempat yang damai untuk memulihkan jiwa kita. Saya harap Anda dapat menemukan tempat-tempat suci ini dalam hati Anda, sampai Anda bebas dan bersatu kembali dengan orang-orang yang Anda cintai. Sampai saat ini, kami dengan Anda. Kristan Julius.” Begitulah Kristan menulis.

Suatu pagi, sewaktu ikut rombongan orang tua murid JIS ke penjara Cipinang, saya melihat keempat pemuda yang rata-rata berusia 20-an tahun itu, memang tampak akrab dengan rombongan orang tua murid JIS. Mereka berbincang seolah anak kepada orang tua. Tidak ada jarak, kendati perbedaan kelas sosial di antara mereka, sangat kentara dan sungguh jauh. Para orang tua murid yang berasal dari kelompok ekonomi mapan di Jakarta, juga tak jijik atau segan duduk di tikar plastik yang disewa dari penjara, bercanda dengan empat terpidana.

Pagi itu, 26 Februari 2015, para orang tua murid JIS membawakan untuk mereka, makanan Jepang cepat saji, es cendol Bandung, dan sebungkus buah-buahan. “Mereka orang kecil. Tidak berdaya. Kami tidak percaya, mereka pelaku sodomi,” kata satu orang tua murid.

Tentu, kasus di JIS bukan soal percaya atau tidak percaya bahwa empat terpidana dan juga dua guru JIS adalah pelaku pelecehan seksual, tapi bahkan orang awam pun mestinya akan bertanya: apa mungkin, anak berusia lima atau enam tahun disodomi tujuh orang dewasa sebanyak 13 kali dalam rentang waktu empat bulan, tanpa kondom atau pelumas, lantas [bentuk] duburnya bisa normal, atau korban tidak menderita penyakit seksual menular?

Di penjara Cipinang, ketika saya membacakan kartu pos dari Kristan, Zainal terlihat tertunduk. Cukup lama, sebelum wajahnya kemudian menengadah ke langit-langit ruangan, tempat kami diperbolehkan mengobrol. Saat itu, saya lalu teringat pada Sisca, perempuan kurus yang menangis di ruang rapat kecil di Labschool, Jakarta Selatan, yang suaminya dipersalahkan, dipenjara 10 tahun untuk kasus yang sama dengan lima petugas kebersihan di JIS.

“Anak-anak saya masih kecil, masih berusia 5 tahun dan 8 tahun,” kata Sisca.

Keluar dari ruang rapat, menjelang pintu gerbang Labschool, Tracy memeluk Sisca. Keduanya terisak. Dan kini, berbulan-bulan sudah, dua perempuan itu dan juga anak-anak mereka, harus berpisah dengan suami dan ayah mereka.

Seperti pertanyaan Sisca pada Arif di ruang rapat, entah apa yang akan keduanya sampaikan pada anak-anak mereka, bila anak-anak itu bertanya: di mana ayah mereka, kenapa ayah mereka dipenjara, atau benarkah ayah mereka menyodomi anak-anak seusia mereka.

Iklan