CaptureAda 65 wartawan dan 18 nitizen atau jurnalis warga yang tewas sepanjang tahun ini akibat melakukan pekerjaaannya, dan lebih 150 wartawan dipenjara. Dan untuk indeks kebebasan pers, Indonesia berada di urutan 138 dari 180 negara. Kategorinya: buruk.

oleh Rusdi Mathari
Irak menjadi negara yang paling mematikan bagi wartawan sepanjang tahun ini. Laporan terbaru dari Reporters Without Borders [rsf.org] menyebutkan, sekurang-kurangnya 11 jurnalis tewas di negara yang terus dirundung perang saudara menyusul invasi tentara Amerika 14 tahun silam itu.  Kasus yang paling tragis dan menyedihkan adalah kematian Yahya Al Khatib yang tewas dieksekusi oleh orang-orang ISIS, 16 Agustus silam.

Dia sebelumnya bekerja untuk jaringan TV Al-Mosuliyah dan Nineveh Al-Ghad itu, sebelum Mosul jatuh ke tangan kelompok ISIS. Akhir tahun lalu, dia pindah ke Bagdad dan menetap di sana selama tiga bulan. Tiga bulan berikutnya, dia pindah ke Erbil di Irak Utara, dan pindah lagi ke ibukota Kurdistan.

Selama kepindahannya itu, Yahya, menawarkan diri ke banyak media untuk bekerja sebagai wartawan tetap tapi semuanya menolak, dan gagal mendapatkan bantuan keuangan dari organisasi wartawan Irak. Dia  lalu kembali ke Mosul meskipun kota itu dikuasai sepenuhnya oleh kelompok ISIS. Kata-kata terakhir Yahya yang dicatat oleh Journalist Freedom Observatory adalah: “Aku lebih baik mati di tangan orang-orang ISIS daripada hidup mengemis.” Dan benar, Yahya tewas di tangan orang-orang ISIS hanya beberapa hari setelah para wartawan Irak memperingati hari pers mereka.

Prancis menjadi negara kedua yang paling mematikan bagi wartawan menyusul serangan bersenjata ke kantor redaksi Charlie Hebdo di Paris, awal tahun ini. Reporters Without Borders mencatat ada delapan wartawan Prancis yang tewas akibat kerja jurnalistik mereka. Di bawah Prancis, ada Suriah [tujuh wartawan tewas], Sudan [enam wartawan], Yaman dan India [lima], Brazil, Filipina dan Meksiko [masing-masing tiga].

Total jumlah wartawan yang tewas karena menjalankan tugas mereka adalah 65 orang. Itu pun dengan catatan: wartawan yang tewas adalah yang sudah jelas karena melakukan kegiatan jurnalistik, dan belum termasuk para wartawan yang tewas oleh sebab lain atau belum terkonfirmasi.

Dalam laporan yang dikeluarkan pertengahan bulan ini, Reporters Without Borders juga mengeluarkan daftar negara yang paling banyak memenjarakan wartawan akibat pekerjaan mereka dan Cina menempati urutan pertama dari daftar negara yang tidak ramah pada wartawan. Sampai Desember tahun ini, rezim di negara itu setidaknya telah menangkap dan memenjarakan 23 wartawan dengan berbagai alasan.

Lin Youping Chen adalah wartawan yang mendekap paling lama di penjara di Cina. Dia dibui sejak Juli 1983 setelah divonis penjara seumur hidup yang kemudian diubah menjadi hukuman mati. Gara-garanya: Lin menerbitkan pamflet Ziyou Bao atau Laporan Kebebasan yang dituding sebagai kontra revolusi oleh rezim komunis Cina.

Tahun ini, Cina memenjarakan Wang Xiaolu, wartawan dari Caijing, majalah keuangan terkemuka di Beijing. Wang dituding telah menulis berita yang berdampak pada kekacauan pasar saham Beijing. Dikutip The Guardian, Wang mengaku bersalah dengan tulisannya dan berharap pengadilan bisa memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki keadaan.

Mesir adalah negara selanjutnya yang paling banyak menahan wartawan yaitu 22 wartawan. Sepanjang tahun ini saja, rezim militer negara itu telah memenjarakan tujuh wartawan. Kasus terbaru adalah penahanan atas Ismail Alexandrani, yang ditahan sejak November silam.

Wartawan lepas berusia 32 tahun itu ditangkap oleh tentara pada tengah malam di Bandara Hurghada, sepulangnya dari Berlin Jerman. Penguasa menuduh Ismail melakukan tiga kesalahan: bergabung dengan kelompok ilegal, mempromosikan kelompok yang dimaksud, dan membuat berita palsu untuk menyebarkan teror.

Di bawah Mesir, ada Iran yang menahan 18 wartawan, Eritrea 15 wartawan, Uzbekistan dan Turki [sembilan wartawan], Azerbaijan, Bahrain dan Suriah [masing-masing delapan wartawan]. Total jumlah wartawan yang dipenjara di seluruh dunia adalah 153 orang. Mereka tersebar mulai dari penjara-penjara di Gambia di Afrika hingga sel-sel sempit di Korea Utara.

Dan Amerika Serikat yang sejauh ini terkenal sebagai negara yang menghargai kebebasan berpendapat juga dicatat memenjarakan seorang wartawan. Dia adalah Barret Brown yang dibui 35 bulan penjara oleh pengadilan Texas pada 12 September 2012 karena divonis bersalah melakukan pencurian data dari komputer sebuah perusahaan meski Brown membantahnya. Dia menggambarkan dirinya sebagai wartawan investigasi dan mengatakan bahwa penyelidikan pemerintah dalam kegiatan online-nya adalah mengancam kebebasan pers.

Selain wartawan, Reporters Without Borders mengumumkan pula para nitizen dan jurnalis warga yang tewas akibat pekerjaan mereka. Untuk kelompok ini, Suriah berada di urutan paling atas.

Salah seorang jurnalis warga yang tewas di Suriah adalah Jumuah Al Ahmed yang bekerja untuk kantor berita Shahba Press News Agency. Dia tewas akibat serangan udara pesawat pembom Rusia yang menghancurkan desa Hayyan di Aleppo, 27 Oktober silam. Usianya saat itu 34 tahun, dan dia meninggalkan empat anak. Empat hari sebelum kematian Jumuah, Wassim Al Adel, yang bekerja untuk Ma’arrat Media Center juga tewas oleh serangan bom pesawat Rusia di Binin, Idlib.

Di bawah Suriah, Bangladesh menjadi negara yang  paling berbahaya kedua bagi para nitizen dan jurnalis warga, disusul Brazil, Iraq, Pakistan dan Turki. Total jurnalis warga dan nitizen yang tewas akibat pekerjaan mereka yang dicatat oleh Reporters Without Borders adalah 18 orang.

Di luar laporan soal kematian dan penahanan para wartawan, Reporters Without Borders juga mengeluarkan indeks kebebasan pers di 180 negara. Indeks itu dibagi ke dalam lima kelompok warna: putih untuk indeks kebebasan pers yang tinggi atau sangat bagus, kuning bagus, cokelat agak bagus, merah buruk dan hitam untuk indeks paling buruk. Perinciannya: untuk warna putih ada 21 negara,kuning 31 negara, cokelat 62 negara, merah 46 negara, dan hitam 20.

Lima negara Eropa yaitu Finlandia, Norwegia, Denmark, Belanda dan Swedia adalah negara-negara yang dinilai memiliki indeks kebebasan pers paling bagus dengan skor berkisar 7 sampai 9,5. Lima negara selanjutnya adalah Selandia Baru, Austria, Kanada, Jamaica, dan Estonia. Ada pun 10 negara dengan indeks kebebasan pers terburuk adalah Laos, Somalia, Iran, Sudan, Vietnam, Cina, Suriah, Turkmenistan, Korea Utara, dan Eritrea.

Kebebasan pers Indonesia bukan termasuk yang paling buruk, melainkan buruk atau hampir paling buruk. Berada di kelompok merah, bersama antara lain Malaysia, Guatemala, Sudan, Zimbabwe, Columbia, Kamboja, dan Burundi; Indonesia menempati urutan 138 dengan indeks kebebasan pers 40,75 atausedikit lebih baik dari Filipina, tapi lebih buruk dari India dan Venezuela.  Indeks kebebasan pers Indonesia tahun ini bahkan kalah jauh dibandingkan Timor Leste, yang berada di kelompok cokelat dan menempati urutan 103.

Iklan